Senin, 02 November 2015

Upacara Pitra Yadnya

UPACARA PITRA YADNYA
Mata Kuliah Acara I
Dosen : Ni Kadek Julia Lingga Dewi, S.Pd.H, M.Pd



Oleh :
1.     Ni Putu Indrayanti                    (14.1.1.1.1.111)
2.     Ni Putu Wiwid Septini             (14.1.1.1.1.112)
3.     I Nyoman Alit                         (14.1.1.1.1.115)
4.     Putu Satya Darmatika             (14.1.1.1.1.119)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA HINDU
FAKULTAS DHARMA ACARYA
INSTITUT HINDU DHARMA NEGERI DENPASAR
2015


PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kematian atau seseorang meninggal, berarti hubungan dengan dunia nyatanya telah putus, ia dikatakan kembali ke alam baka / ke akhirat. Ida hyang Widhi atau Tuhan Yang Maha Esa, sang pencipta kelahiran dan kematian yang berwenang menentukan status batas usia, yang tidak dapat diramal oleh manusia biasa, kapan waktunya yang tepat seseorang berpulang kedunia akhirat.
Di dalam perjalanan kematian tersebut diatas tidak ada ketentuan yang pasti terhadap seseorang tidak ada pilih kasih, tidak ada perbedaan kaya ataupun miskin, juga perbedaan pejabat atau bukan pejabat, ayah apa anak, kakek apa cucu, dokter apa pasien, semuanya akan berjalan kelak menuju kearah kematian sesuai dengan kehendak takdir, yang diembel-embeli pula dengan perbuatan serta karmanya.
Jadi mati adalah suatu keharusan dari hidup manusia yang kemudian masing-masing bangsa, masing-masing agama, masing-masing suku mempunyai cara-cara tersendiri untuk memberikan penghormatan terakhirnya sebagai manusia yang memiliki peradaban budaya.
Khususnya di Bali dengan umat yang memeluk Agama Hindu yang menganut kepercayaan adanya roh masih hidup setelah badan kasar tak bergerak dan terbentang kaku, mempunyai upacara yang khas dalam penyelenggaraan jazad seseorang yang berpulang yang disebut Pitra Yajna dimana rangkaian dari upacara ini biasa dikenal dengan Istilah Ngaben / Palebon / Pralina dll, dan disesuaikan dengan tingkat dan kedudukan seseorang yang bernilai “Desa-Kala-Patra-Nista-Madya-Utama”.
Secara garis besarnya Ngaben itu dimaksudkan adalah untuk memproses kembalinya Panca Mahabhuta di alam besar ini dan mengantarkan Atma (Roh) kealam Pitra dengan memutuskan keterikatannya dengan badan duniawi itu. Dengan memutuskan kecintaan Atma (Roh) dengan dunianya, Ia akan dapat kembali pada alamnya, yakni alam Pitra.
Kemudian yang menjadi tujuan upacara ngaben adalah agar ragha sarira (badan / Tubuh) cepat dapat kembali kepada asalnya, yaitu Panca Maha Bhuta di alam ini dan Atma dapat selamat dapat pergi kea lam pitra. Oleh karenanya ngaben tidak bias ditunda-tunda, mestinya begitu meninggal segera harus diaben. Agama Hindu di India sudah menerapkan cara ini sejak dulu kala, dimana dalam waktu yang singkat sudah diaben, tidak ada upacara yang menjelimet, hanya perlu Pancaka tempat pembakaran, kayu-kayu harum sebagai kayu apinya dan tampak mantram-mantram atau kidung yang terus mengalun. Agama Hindu di Bali juga pada prinsipnya mengikuti cara-cara ini. Cuma saja masih memberikan alternatif untuk menunggu sementara, mungkin dimaksudkan untuk berkumpulnya para sanak keluarga, menunggu dewasa (hari baik) menurut sasih dll, tetapi tidak boleh lewat dari setahun. Tetapi sebenarnya dengan mengambil jenis ngaben sederhana yang telah ditetapkan dalam Lontar, sesungguhnya ngaben akan dapat dilaksanakan oleh siapapun dan dalam keadaan bagaimana juga. Yang penting tujuan utama upacara ngaben dapat terlaksana. Sementara menunggu waktu setahun untuk diaben, sawa (jenasah / jasad / badan kasar orang yang sudah meninggal) harus dipendhem (dikubur) disetra (kuburan). Untuk tidak menimbulkan sesuatu hal yang tidak diinginkan, sawa pun dibuatkan upacara-upacara tirta pengentas. Dan proses pengembalian Panca Maha Bhuta terutama Unsur Prthiwinya akan berjalan dalam upacara mependhem ini.













PEMBAHASAN
Pengertian Ngaben dan Pitra Yadnya
Ngaben sering dipersepsikan dengan arti negatif yaitu “ngabehin” (berlebihan). Ada pula yang menyebut “ngabin” atau nampa. Ada juga yang mengartikan “Ngabuin” (menjadikan abu. Ngaben asal katanya “Api”, mendapat prefix ang menjadi “ngapi”, kemudian mendapat suffix “an” menjadi “ngapen”. Kemudian terjadi perubahan fonem P menjadi B menjadi ngaben.  Upacara ngaben merupakan proses pengembalian unsur Panca Maha Butha kepada Sang Pencipta. Kekuatan Panca Maha Butha menciptakan adanya “Stula Sarira” yaitu Pertiwi (kulit), Teja (darah daging), Akasa (urat-urat), Bayu (tulang belulang), Apah (sumsum). Ada juga yang mengartikan lain, ngaben berasal dari kata beya (biaya atau bekal). Dari ngaben muncul kata meyanin atau ngabeyanin yang disingkat menjadi ngaben. Ngaben juga disebut sebagai Pitra Yadnya (Lontar Yama Purwana Tattwa). Pitra artinya leluhur atau orang yang mati, yadnya adalah persembahan suci.
Runtutan upacara Pitra Yadnya yaitu :
1.   Upacara
Atiwa-tiwa.
2.   Upacara Pengabenan
3.   Upacara Pemukuran  (Penyekahan)
4.   Upacara Pengelemijian
5.    Upacara Pengrorasan (pada pengabenan)
6.    Upacara Nilapati (ngunggahang Betara Hyang)
Dari runtutan upacara diatas dapat diringkas menjadi empat bagian yaitu:
1.    Atiwa-tiwa
2.    Pengabenan
3.    Pemukuran/Penyekahan/Pengerorasan
4.    Nilapati.

Upacara Atiwa-tiwa memiliki tatanan upacara sebagai berikut:
1.    Ngeringkes (Upacara mebersih dan penyucian atau ngeringkes).
2.    Upacara menghaturkan Saji Pitra
3.    Upacara Pepegatan
4.    Upacara Pengiriman
5.    Upacara Pengrorasan

Makna Upacara Atiwa-tiwa
Asal kata Atiwa-tiwa: Ati = berkeinginan, Awa =  terang atau bening atau bersih. Artinya: Keinginan melaksanakan pebersihan dan penyucian jenasah dan kekuatan Panca Maha buthanya. Atiwa-tiwa juga disebut upacara melelet atau upacara pengeringkesan. Merupakan upacara pebersihan dan penyucian secara permulaan thd jenasah dari kekuatan Panca Maha Butha. Dikenal dg Puja Pitara utk meningkatkan kesucian Petra menjadi Pitara. Ngeringkes atau Ngelelet pengertiannya adalah pengembalian atau penyucian asal mula dari manusa yaitu berupa huruf2 suci sehingga harus dikembalikan lagi. Manusia lahir diberi kekuatan oleh Sang Hyang Widhi berupa Ongkara Mula, didalam jasad bermanifestasi menjadi Sastra Mudra, Sastra Wrestra (Nuriastra) dan Sastra Swalalita. Ketiga kekuatan sastra ini memberi makna Utpti, Stiti, Pralina (lahir, hidup, mati). Ketiga sastra ini kemudian bermanifestasi lagi memberi jiwa kepada setiap sel tubuh. Sebagai contoh Sastra Wrestra (Nuriastra) antara lain:
1.    A = kekuatan pada Ati Putih
2.    Na = kekuatan pada Nabi (pusar)
3.    Ca = cekoking gulu (ujung leher)
4.    Ra = tulang dada (tulang keris)
5.    Ka = pangrengan (telinga)
6.    Da = dada
7.    Ta = netra (mata)
8.    Sa = sebuku-buku (sendi)
9.    Wa = ulu hati  (Madya)
10. La = lambe (bibir)
11. Ma = cangkem (mulut)
12. Ga = gigir (punggung)
13. Ba = bahu (pangkal leher)
14. Nga = irung (hidung
15. Pa = pupu (paha)
16. Ja = jejaringan (penutup usus)
17. Ya = ampru (empedu)
18. Nya = smara (kama)
Tubuh manusia memiliki 108 Sastra Dirga (huruf-huruf suci) yang pada waktu meninggal sastra2 itu dikembalikan ke sastra Ongkara Mula atau disebut Ongkara Pranawa. Proses pengembalian ini disebut Ngeringkes yang memerlukan upacara dan sarana. Atiwa-tiwa sudah merupakan pensucian tahap permulaan, sehingga setelah atiwa-tiwa jenasah sudah bisa digotong dinaikkan ke paga atau wadah. Jika dikubur tanpa atiwa-tiwa sesungguhnya jenasah tidak boleh digotong, tetapi dijinjing karena masih berstatus Petra.

Filosofis Pengabenan dari gugurnya Rsi Bhisma
            Pengabenan umat Hindu menggunakan filosofi yang diambil dari Gugurnya Resi Bisma dalam perang Berathayudha ditengah Kuru Setra. Badannya penuh dengan panahnya Sang Arjuna. Setelah rebah bdanya sama sekali tidak menyentuh tanah krena disangga ribuan panah. Resi Bisma gugur karena pembeyaran sumpahnya Dewi Amba yang reinkarnasi menjadi Sri Kandhi. Senjata Sri Kandhi yang pertama kali menembus kekebalan badannya Resmi Bisma, setelah kekebelannya hilang sbg pembayaran sumpahnya Dewi Amba, kemudian senjatanya Dresta Jumena dan ribuan panahnya Arjuna menembus seluruh tubuh Resi Bisma. Nilai-bilai yang dapat diambil dari sini adalah:
1.             Resi Bisma. Resi adalah orang yang telah mencapai tingkat kesucian tinggi. Dari sini diambil filosofi bahwa jasad harus melalui proses penyucian. Bisma berasal dari kata Wisma atau tempat atau wadah, yaitu wadahnya Sang Jiwatman atau Stula Sarira atau unsur-unsur Panca Maha Butha. Kata Resi Bisma mengandung filosofi proses penyucian terhadap Panca Maha Butha.
2.             Sri Kandhi. Sri = sinar suci (Div) kemudian menjadi Dewa. Kandi = kanda = dudonan atau tahapan.
3.             Dresta Jumena: Dresta = pedoman
4.             Seribu panahnya Sang Arjuna (Sang Dananjaya) = Dana dan Jaya artinya tulus iklas. Angka 1000 diambil dari angka Samkhiya adalah mengembalikan unsur Panca Maha Butha dari alam Bhur Loka ke Swah Loka (kehadapan Sang Pencipta).
5.             Mohon toya pemanah (Toya Manah). Air minum yang diminta oleh Rsi Bisma diberikan oleh Duryudhana mempergunakan sebuah Kundi Manik sebagai simbul indriya, ditolak oleh Rsi Bisma sebagai simbol penolakan indria (tidak lagi ngulurin indria), lalu minta kepada Arjuna, digunakan  sebuah anak panah (manah = intuisi = keneh, suara hati), air muncrat dari tanah (air klebutan). Ini merupakan dasar filosofi Manah Toya. Tirta Pemanah artinya: toya berasal dari sindhu atau hindu atau windhu artinya kosong atau sunya. Pemanah artinya: pe dan manah = alam pikiran. Tirta Pemanah = untuk mengembalikan  Panca Maha Butha berdasar ketulusan hati.
6.             Tiga anak panah sebagai bantal Rsi Bisma sbg simbul leluhur, juga mengandung makna Gegalang pisang kayu dan pis bolong 250 kepeng.
7.             Air untuk membersihkan badan diminta kepada Duryudana, diberikan menggunakan tempayan emas, tapi ditolak, sebagi simbul penolakan segala gemerlap duniawi.  Arjuna menggunakan dua panah dipanahkan keatas kmd panah pertama jatuh diatas kepala Resi Bisma, dan panah yang satunya lagi jatuh di kaki. Oleh karena itu pembersihan harus dimulai dari kepala. Dari sini diambil filosofi Toya Penembak yang diambil dari Campuhan pada tengah malam tanpa lampu (gelap) dan diambil oleh sanak keluarga. Maknanya sebagai sarana pemrelina mantuk maring Sangkan Paran (Ah … Ang) dan untuk menetralisir awidyanya sang lampus. Toya Penembak: pe = pemutus; nembak = pembuka jalan. Tirta Penembak: untuk memutuskan agar terbentuk jalan ke Sunya Mertha.
8.             Menjelang menghembuskan nafas terakhir Rsi Bisma berpesan kepada Arjuna agar jasadnya dibakar menggunakan senjata Geni Astra yang disimbulkan sebaga tirta pengentas. Tirta Pengentas: Pe = pegat, ngen = ngen-ngen = trena, tas = hangus. Tirta Pengentas untuk memutuskan dan menghilangkan Tresna agar kembali kepada kekuatan amertha yaitu ke Siwa Merta.
9.             Senjatanya Dresta Jumena adalah pelukatan. Dresta = sima = adat. Jumene = jumeneng = dikukuhkan sebagai pedoman.
10.         Page yang dipakai untuk pebersihan menggunakan paga karena badan Resi  Bisma tidak menyentuh tanah melainkan ditunjang oleh panah.
11.         Penggunaan page dan leluhur merupakan ciri unsur bhur, bwah, swah loka.

Upakara Atiwa-tiwa
1.      Upakara Munggah di Kemulan
Peras, soda, daksina, suci alit asoroh, tipat kelanan, canang suci.
2.      Upakara Munggah di Surya
Peras, soda, daksina, tipat kelanan, canang pesucian
3.      Upakara disamping jenasah
Peras, soda, daksina. Tipat kelanan. Banten saji pitara asele. Peras pengambean, penyeneng, rantasan. Eteh-eteh pesucian, pengulapan, prayascita, bayekawonan. Banten isuh-isuh, lis degdeg (lis gede), bale gading (Kereb Akasa).
4.      Upakara Pepegatan
Pejati asoroh, banten penyambutan pepegatan angiyu, sebuah lesung, segehan sasah 9 tanding.
5.      Upakara Pengiriman


Pejati lengkap 4 soroh (termasuk pekeling di Prajapati), Saji Pitra asele, punjung putih kuning, tipat pesor dan nasi angkeb, Peras Pengambean, segehan sasah 9 tanding.
6.      Upakara Pengentas Bambang
Pejati lengkap asoroh, tumpeng barak, soda barak ulam ayam biying mepanggang, prayascita, bayekawonan, pengulapan, segehan barak atanding.
7.      Upakara di Sanggah Cucuk
Pejati asoroh, canang payasan, banten peras tulung sayut.

Jenis-jenis Upacara Pengabenan
1.      Upacara Pengabenan Mewangun
Semua organ tubuh (sebagai awangun) memperoleh material upakara sehingga upakaranya banyak. Ngaben jenis ini diikuti dengan Pengaskaran. Ada dua jenis:
1)        Upacara Pengabenan mewangun Sawa Pratek Utama, ada jenasah atau watang matah. 
2)        Upacara Pengabenan mewangun Nyawa Wedana, tidak ada jenasah tetapi disimbulkan dg  adegan kayu cendana yang digambar dan ditulis aksara sangkanparan. Nyawa Wedana berasal dari kata Nyawa atau nyawang (dibuat simbul). Wedana = rupa atau wujud. Dengan demikian Nyawa Wedana artinya dibuatkan rupa2an (simbolis manusia).
2.      Upacara Pengabenan Pranawa
Pengabenan dengan sarana upakaranya ditujukan kepada 9 lobang yang ada pada diri manusia. Pranawa berasal dari kata Prana (lobang, nafas, jalan) dan Nawa (artinya 9). Kesembilan lobang yang dimaksud adalah:
1.      Udana (lobang kening), mempengaruhi baik buruknya pikiran
2.      Kurma (lobang mata) mempengaruhi budhi baik atau buruk , terobos ke dasendriya
3.      Krkara (lobang hidung), pengaruh Tri Kaya, jujur atau tidak
4.      Prana (mulut). Dosa bersumber dari mulut (Tri Mala Paksa)
5.      Dhananjya (kerongkongan). Kekuatan mempengaruhi manah – sombong dan durhaka
6.      Samana (lobang pepusuhan), pengaruh jiwa menjadi loba dan serakah.
7.      Naga (lobang lambung)  pengaruh karakter yang berkaitan dg Sad Ripu
8.      Wyana (lobang sendi) pengaruhi perbuatan memunculkan Subha Asubha Karma.
9.      Apana (pantat  kemaluan) pengaruhi kama yg berkaitan denga Sapta Timira.
Kesembilan lobang manusia ini dapat mengantar manusia kelembah dosa. Pengabenan Pranawa juga diikuti dengan upacara pengaskaran.

Ada lima jenis Pengabenan Pranawa
1.      Sawa Pranawa: Disertai jenasah atau watang matah
2.      Kusa Pranawa :  dg watang matah atau hanya dengan adegan saja. Adegannya disertakan pengawak dari 100 katih ambengan. Memakai upacara pengaskaran.
3.      Toya Pranawa. Sama dg Kusa Pranawa, hanya didalam adegannya berisi payuk pere, berisi air dan dilengkapi dengan eteh2 pengentas. Juga memakai Pengaskaran.
4.      Gni Pranawa. Sama dengan pranawa lainnya, juga melakukan pengaskaran tapi pengaskaran nista yang dilakukan di setra setelah sawanya menjadi sekah tunggal. Tanpa uperengga seperti Damar kurung, tumpang salu, pepelengkungan, ancak saji, bale paga, tiga sampir, baju antakesuma, paying pagut. Hanya  memakai dammar layon, peti jenasah dan pepaga/penusangan.
5.      Sapta Pranawa. Upaca ini dilakukan dirumah, menggunakan damar kurung dan pengaskaran. Tapi tidak menggunakan Bale Paga pd waktu mengusung jenasah ke setra. Hanya menggunakan pepaga/penusanganb.  juga dilaksanakan langsung di setra tapi pelaksanaan pengabenannya mapendem, serta pelaksanaan pengentasnya diata bambang.
3.      Pengabenan Swastha
Pengabenan sederhana, dengan tingkat terkecil  karena tidak dengan pengaskaran. Berarti tidak menggunakan kajang, otomatis tanpa upacara Pengajuman Kajang. Tidak  menggunakan bale paga, damar kurung, damar layon, damar angenan, petulangan, tiga sampir, baju antakesuma dan payung pagut. Hanya menggunakan peti jenasah  dan Pepaga/penusangan untuk mengusung ke setra. Pelaksanaan upacara di setra saja. Pengabenan Swastha Geni ini sering rancu dengan pengabenan Geni Pranawa. Swasta asal katanya “su” (luwih, utama). Astha berasal dari Asthi (tulang, abu). Dengan demikian Swastha berarti pengabenan kembali ke intinya tapi tetap memiliki nilai utama. Pengabenan swstha terdiri dua jenis:
1.    Pengabenan Swastha Geni. Penyelesaian di setra dengan cara membakar jenasah maupun tanpa jenasah. Hanya ada pelaksanaan “pengiriman” setelah dibuatkan bentuk sekah tunggal, kemudian dilanjutkan dengan upacara nganyut. Setelah itu selesai.
2.    Pengabenan Swastha Bambang. Semua runtutan pelaksanaannya upakaranya dilaksanakan di atas bambang penguburan jenasah. Kwantitas upakaranya sama dengan pengabenan Swastha Geni hanya saja dalam upakaranya ditambah dengan “pengandeg bambang”. Pengabenan swastha bambang ini tidak disertakan upacara pengerekan dan penganyutan , karena tidak dilakukan pembakaran melainkan dikubur. Sedangkan “pengelemijian” dan pengerorasan tetap dilaksanakan seperti ngaben biasa. Pengabenan Swastha Geni atau Swastha Bambang termasuk pengabenan nista utama, tidak memakai bale paga, tidak melaksanakan pengaskaran dan pada saat ke setra memakai tumpang salu saja.
3.    Pengabenan Kerthi Parwa. Termasuk pengabenan tingkat nistaning utama. Dilakukan pada umat Hindu yang gugur di medan perang. Tidak dilakukan pengaskaran, hanya upacara ngentas dan pengiriman saja. Pelaksanaanya seperti pengabenan Swastha Geni.
4.    Pengabenan Ngelanus. Sebenarnya tidak termasuk bagian dari jenis pengabenan. Hanya teknisnya yang dibuat cepat. Ada dua jenis:
Ngelanus Tandang Mantri. Pengabenan dan pemukuran diselesaikan dalam satu hari. Pengabenan ini mengacu pada sastra agama “Lontar Kramaning Aben Ngelanus”. Disebut juga dengan Pemargi Ngeluwer. Pengabenan ini hanya untuk para Wiku, tidak diperkenankan untuk walaka.
Ngelanus Tumandang Mantri. Dilakukan untuk walaka dalam kurun waktu satu sampai dua hari untuk para walaka . Upakara dan upacaranya tergantung kwantitas upakara dan upacaranya.

Tata Cara Nyiramang Layon
Persiapan sarana
1.    Tirta:
a. Tirta penglukatan pebersihan dari wiku
b. Tirta peleletan dari wiku
c. Tirta Pekuluh dari mrajan.
d. Tirta khusus
Tirta Pengentas Bangbang: selesai atiwa-tiwa jika jenasah akan dikubur atau mekingsan di Gni, sebaiknya menggunakan tirta diatas agar sewaktu-waktu bisa ngaben. Jika tidak maka sebelum setahun tidak boleh ngaben
Tirta S
ang Hyang Prajapati: bila jenasah dikubur atau mekingsan di Gni mempergunakan tirta ini, krn tirta ini memiliki kekuatan pengembalian ke sumbernya. SH Prajapati bersifat Mulaning Mula (wit = sumber). Prajapati adalah tempat kehidupan bermula.


2.    Persiapan sarana pebersihan.
Toya kumkuman, Sisig ambuh, Sisir dan petat, Minyak rambut, Wastra pesalin sepradeg, Boreh kuning, Kain pengusap rai, Kain pengusap raga.
3.    Persiapan Sarana Penyucian:
a.       Gegaleng 1 ijas pisang kayu 9 atau 11 bulih, belayag berisi uang kepeng 225/250 biji, tebu ratu mesurat sangka paran, semuanya dibungkus kain putih. Ada juga yang menyebut Bantal Segi Tiga sebagai gegaleng.
b.      Momon (cincin mirah Windhusara) utk ngerajah dan momon. Simbul menetralkan sifat serakah manusia (momo) semasa hidupnya. Juga untuk mencegah bau busuk. Secara niskala simbul Jiwatma yang telah meninggalkan jenasah.
c.       Beberapa lembar kain putih yang dirajah huruf Modre (kajang).
d.      Simbul penyucian organ tubuh sensitif yang menimbulkan kama dan indriya selama hidupnya. Penukup yang dimaksud ialah: Penukup Siwa dwara (ubun-ubun), Penukup dua daun telinga, Penukup lambe (mulut), Penukup muka atau prerai, Penukup purus atau baga (kemaluan).
e.       Sebatang tebu ratu dan batang kayu sakti, disurat sbg Panca Datunya.
f.       Wewalungan (tulang belulang) yang dirangkai diletakkan diatas layon.
g.      Umbi skapa diiris-iris (usapang pada setiap persendian jenasah, sbg simbul penyucian wyana dari dasa prana).
h.      Daun intaran (simbul ardha Chandra). Kuncup kembang melati (pusuh menuh) untuk lubang hidung simbul Sang Hyang Waruna. Bunga teleng putih (slagan alis)
i.        Daun delem (untuk telinga) sbg simbul Sang Hyang Kwera.
j.        Malem 2 pulung (untuk lubang telinga), simbul apah, simbul Sang Blegode.
k.      Keramas (santen berisi air dapdap). Blonyoh putih (beras kencur), blonyoh kuning (beras kencur temutis). Juga bebek anget-anget. Kapas.
l.        Pecahan cermin 2 buah untuk kedua netranya. Simbul Teja (SH Surya Candra).
m.    Tali penyalin secukupnya
n.      Bebek (serbuk cendana) secukupnya. Taburi seluruh tubuh sbg simbul Pertiwi (Sang Hyang Carman).
o.      Sebidang daun tunjung berisi kain hitam dan semburan (boreh) rempah-rempah utk sedaka lanang. Sedaka istri memakai sebidang daun tuwung bolo 3 lembar dilapisi kain hitam berisi rempah2 (anget2) pada kemaluan, simbul Sang Hyang Smara.
p.      Pisau “sudha mala” atau pemutik untuk mekerik (lanang), pisau mejejahitan untuk istri. Pisau Sudha Mala (ujungnya tri sula) utk menetralisir kekuatan Sadripu dan Sapta Timira yang kelak mempengaruhi perbuatan (karmanya). Dari Tatwa: penyucian Dewa Kuku (SH Kenaka Manik) yang telah dikotori perilaku manusia (lontar Tutur Agastyaprana).
q.      Dua untai benang tetebus (benang putih) untuk ituk-ituk. Untuk ikat ibu jari kaki dan tangan. Simbul penyatuan Panca Budhindriya dengan Panca Karmendriya agar menyatu dengan manah untuk kembali ke Ahamkara.
r.        Sebuah ante dari bambu, ditulisi aksara suci di bagian kepala, ulu hati dan kaki. Sebidang tikar plasa yang sudah dirajah
s.       Tiga buah kereb Sinom. Kereb Sinom dibuat dari daun enau muda dan bunga pinang (blangsah buah) dianyam 10-15 Cm, panjang 75-90 cm. Kereb Sinom adalah simbul Tri Kaya, bahwa Rokh mendapat sorga tergantung hasil Tri Kayanya (Karma Wasana).
t.        Upakara Beyakala, jejaritan Bale Gading dan lis degdeg.
u.      Kain putih untuk menggulung. Kain putih melelancing dengan lapis kain 11 lapis (untuk kajang solas)
v.      Dua lempeng perak dibungkus tiga helai daun kayu sakti sebagai pegembelnya. Kepingan waja 4 tebih (untuk gigi) simbul Bayu, simbul dari Sang Hyang Bayu.
w.    Peti jenasah yang sudah diupacarai, tumpang salu, pepelengkungan. Ancak saji: pagar tempat jenasah dibaringkan.
x.      Kain putih berisi sesuratan dedayang sebagai sarana ulon.
y.      Sebuah pelepah Pisang Udang Sabha (warga Pasek sesuai Bhisama menggunakan daun biyu kaikik), nantinya ditindih oleh jenasah. Ditulis huruf “Rwa Bhinneda”. Kata Udang = Uda + Ang. (Uda = air = Wisnu = Ung) (Ang = Ah = Sunia). Daun Pisang Udang Saba bermakna: “karmanyalah menentukan sorga (sunya loka) atau tidak.

4.    Persiapan tempat pebersihan yaitu Pepaga atau pandyusangan atau penusangan.
       Pemandian sawa sebagai simbul bumi, dibuat dg kawat mas, perak tembaga (tridatu). Diberi alas tikar dan pandan berduri sebelum dipakai. Pepaga (penusangan) dibuat dari bambu (kalau bisa bambu kuning), bertiang empat tingginya 175 Cm, ujung atas dari tiang dipasangi leluwur. Pepaga dibuat setinggi puser sang “yajamana” (pemilik upacara), dipasangi leluwur. Pojok timur laut dari tiang dipasang 11 uang kepeng sebagai simbul tingkatan alam sunia yg dituju. Panjang bambu dua jengkal lebih dari ukuran jenasah dengan lebar 80 Cm atau sesuai lebar jenasah. Galarnya menggunakan perhitungan “Ante” (cekur, pinggang, nyawan, galar, ante, guling). Etika pemasangan: jika laki tengahnya menengadah lainnya tengkurep, wanita sebaliknya.
5.    Persiapan peti jenasah (simbul kekuatan maya SHW). Pada bagian kaki dilubangi sebesar “aguli” (ajari tengah) sebagai jalannya Panca Maha Butha keluar dari maya menuju alam “Sapta Petala”. Lubang dibagian kepala adalah jalan keluar jiwatma menuju Sapta Sunia. 
6.    Upakara ayaban setelah melelet diletakkan diwulu tempat layon (luanan), baik nista, utama atau madya. Contoh: Banten ayaban tumpeng 27, hulunya daksina gede sarwa 4 lengkap dengan banten sucinya, Banten Saji Tarpana, Banten Pulegembal, Banten Pengulapan, prayascita, bayekawonan.
7.    Se-ember air antiseptic (air + daun intaran/daun base, atau air diisi bahan kimia antiseptic yang dibeli ditoko) untuk cuci tangan orang ikut ngeringkes.
8.    Tata Cara Upacara Ngelelet
a.    Mengikuti subha dewasa peleletan, menunggu kesiapan krama banjar (perintah Klian banjar)
b.    Penurunan layon dari Bale Gede, dilakukan sanak keluarga, diserahkan kpd krama banjar dicacapan bale, keluarga tetap memopong bagian kepala. Menuju pepaga, posisi kaki layon tetap lebih dahulu.
c.    Pada waktu memandikan, layon tidak langsung ditelanjangi. Busana hanya dibuka bagian dada saja dulu.
d.   Wiku nyurat sastra diraga dengan cincin mirah. (AH = Nabi; Dasaksara = perut; Mang = ulu hati; Ang = bahu kiri; Ung = bahu kanan; Adu muka = selagan alis; Ang = ubun-ubun.)
e.    Pertama kali keramas dengan toya ambuh, mesisig, bilas air bersih, bilas air kumkuman. Mantra ngeramasi: Om banyu klemukan, banyu pawitra pangilanging papa klesa, danda upata atemahan sudha nirmalaya namah swaha. Ong Ong angurah candra dimuka ya namah swaha.
f.     Keringkan rambut dan muka dengan kain putih. Rambut dipetat dan disisir. Pusung gelung gota (irtri) pusungan mudra lingga (lanang)
g.    Setelah keramas barulah busana dibuka seluruh, keluarga menutup bagian kemaluannya.
h.    Seluruh badan dibilas air biasa , gosok dg blonyoh (boreh kuning), dibilas. Setelah bersih barulah disirami air kumkuman secara merata, keringkan dengan kain. Mantra memandikan: Om sarira sudaya namah swaha. Om gangga paripurnaya namah swaha.
i.      Memakai busana kewikuan. Tirta Bayekala di kakinya saja, perciki tirta pebersihan dengan bale gading dan lis degdeg.
j.      Wiku memercikkan tirta kekuluh merajan (tirta aswapada Hyang Guru), dengan posisi tangan layon memegang sebuah kwangen berisi 11 pis bolong.
k.    Sanak keluarga mohon restu ke Sang Hyang Raditya dengan kwangen, posisi tangan di selagan alis, dan kwangen diletakkan di kaki layon. Mantra: Om Swargantu, Om Suniantu, Om Moksantu, Om Mursantu, Om Ksama Sampurnaya namah swaha.
Sembahyang:
1. Tangan puyung (utpeti sembah)
2. Ke Surya (Sang Hyang Siwa Raditya) dengan kewangen: mohon anugerah kekuatan widya kepada Sang Lina (Stiti sembah)
3. Sembah ke Sang Lina sbg pengaksama agar sang lina melepas tresnanya kepada keluarga yang ditinggalkan
Selesai pebersihan (pebersihan hidup), dilanjutkan dengan penyucian atau Pengeringkesan sebagai berikut:
a)      Memasang gegaleng di kepala layon
b)      Wiku memercikkan tirta pengeringkesan ke seluruh tubuh
c)      Pengerikan kuku (dg pisau sudamala atau pisau banten). Kerikan kuku dibungkus tiga helai daun kayu sakti diletakkan di kaki layon.
d)     Memasang sarana Panca Dathu sbb:
Wewalungan di atas dada layon
Cermin di dua mata (simbul teja)
Daun intaran pada kedua alis (ardha Chandra)
Lempeng waja di gigi (Sang Hyang Bayu)
Bunga celeng putih selagan alis
Malem pada lubang telinga
Daun delem pada daun telinga
Tali itik2 pada dua ibu jari tangan dan kaki
e)      Memasang kwangen:
Penyolasan pd setiap persendian
Kwangen jari: setiap kwangen berisi lima tubungan (diplintir sekecil-kecilnya ujungnya diisi irisan bawang putih (lambing kuku). Juga kwangen jari kaki. Total membuat 20 tubungan.
Memasang kwangen isi 33 kepeng pd panggul
Kwangen di ulu hati: menghadap keatas berisi 2 kepeng, menghadap kebawah berisi 2 kepeng.
Total semua uang kepeng yang digunakan 225 biji
f)       Penangkeb baga atau purus
g)      Memasang tebu yg sudah ditulis pada tulang punggungnya.
h)      Memasang sepotong kayu sakti yang sudah ditulis pada tulang dada
i)        Memasang momon pada rongga mulut.
j)        Memasang kajang (angkeb rai, karna, siwa dwara, cangkem, prana)
k)      Layon digulung dengan kaun penggulung, kemudian tikar, ante yang sudah disurat di bagian kepala–uluhati-kaki, ikat dg tali ketekung (tali rotan) yang sudah disurat, dipasang melingkar di bagian kepala, uluati, panggul. Tali lingkaran kepala dihubungkan ke bagian ulu hati dan bagian panggul. Tali rotan adalah simbul “melepaskan diri dari ikatan tali samsara (panumitisan). Maka perbaikilah karmamu yang asubakarma menjadi subakarma.
l)        Digotong ke bale gede dg posisi kaki layon didepan. Masuk peti, petinya sudah berada diatas tumpang salu.
m)    Memasang pelengkungan, diatasnya kain putih melelancing dengan lapis kain 11 lapis (kajang solas).
n)      Tiga buah kereb Sinom. Kereb Sinom dibuat dari daun enau muda dan bunga pinang (blangsah buah) dianyam 10-15 Cm, panjang 75-90 cm. Kereb Sinom adalah simbul Tri Kaya, bahwa Rokh mendapat sorga tergantung hasil Tri Kayanya (Karma Wasana).
o)      Setelah ngayab, dilanjutkan “Upacara Pepegatan”
p)      Wiku memuja ngaturang Saji Tarpana (Narpana Saji).

Tata cara diatas juga merupakan tata cara untuk meraga wiku. Sedikit penyederhanaan untuk ngelelet layon meraga welaka adalah sebagai berikut:
1.      Persiapan Sarana Pebersihan
a.       Air bersih dan air kumkuman
b.      Air keramas, sisig, minyak wangi
c.       Berbagai jenis bunga harum
d.      Pakaian seperadeg/pesaluk/pesehan (pakaian sembahyang lengkap)
i. Pesaluk hidup laki (kain, saput udeng)
ii. Pesaluk hidup wanita (tapih, kain, sabuk, kamben cerik
iii. Pesaluk mati, laki perempuan sama, kain putih untuk yang sudah kawin, kain kuning bagi yang belum kawin.
e.       Pakaian untuk ngulung dan kain putih.
f.       Tikar
g.      Samsan atau sekarura: beras kuning ditambah irisan daun temen diisi 33 pis bolong, ditempatkan dalam wakul yng dibungkus kain putih.
h.      Beberapa jenis tirta:
1.    Tirta Penglukatan dan Pebersihan (untuk menghilangkan mala petaka atau pembersihan jenasah.
2.    Tirta Aswapada Betara Hyang Guru
3.    Tirta Pengresikan
4.    Tirta sesuhunan keluarga (pura2, kawitan, kemulan). Maksud: trita restu agar perjalanan lancer.
5.    Tirta Kahyangan: pakeling bahwa sang atma akan menghadap ke kahyangan
6.    Tirta pengulung: diperecikkan pada waktu ngulung mayat.
7.    Tirta penembak: memandikan jenasah membersihkan kotoran lahir bathin.
8.    Tirta pengentas: tirta pemutus hubungan (memutuskan ikatan purusa. Tiuk pengentas adalah pisau untuk memutus hubungan.
9.    Tirta manah toya ning: adalah petitis keneh (manah).
10.                        Tirta prelina atma: agar jiwatma yang meninggal pergi kealam asalnya, tidak ngrebeda.

2.
Pelaksanaan Ngelelet
Sama dengan Wiku, hanya ngambuhin bagian duur dapat dilakukan penglingsir. Pebersihan 10 prana sebagai dosa manusia sebagai “dasa mala”. Sepuluh prana itu ialah:
1.      Prana (lubang mulut)
2.      Udana (lobang kepala/kening)
3.      Samana (lobang pepusuhan)
4.      Wyana (lobang persendian)
5.      Kurma (lobang mata)
6.      Krkara (lobang hidung)
7.      Dewa Data  (lobang bibir)
8.      Dhananya (lobang tenggorokan)
9.      Naga (lobang lambung)
10.  Apana (lobang dubur dan kelamin)

Upacara Pangaskaran
Ngaskara (askara=penyucian=pebersihan) adalah penyucian roh dari Atma Petra (roh orang baru meninggal) menjadi Pitara. Ketika kematian terjadi, prakerti (badan kasar) terpisah dg atma (roh) (antahkarana sarira) tapi masih diikuti oleh suksma sarira (alam pikiran, perasaan, keinginan, nafsu). Karenanya roh perlu dibersihkan dg askara (inisiasi). Oleh krn itu roh yang tidak diaben puluhan tahun akan berubah jadi Bhuta Cuil (roh yg tidak bersih) yang mengganggu kehidupan manusia
Pelaksanaan Ngaben harus diikuti upacara Pengaskaran untuk mengembalikan unsur Panca Maha Butanya secara sempurna, sehingga kesucian dari Sang Petra terus ditingkatkan, dari Petra menjadi Pitra, pitra menjadi Dewa Pitara, kemudian dari status Dewa Pitara menjadi Hyang Pitara atau Betara Hyang. Contoh puja masing-masing status tersebut adalah:
Status Petra: Om Tigantu Atma Petras ca, Tigantu Atma Petranam,  Tigantu Atma Petra, Sarwa ya namah Swadah.
Status Pitara: Om Jagrantu Pitara Ganem, Jagantu Pitara Ganem, Jagrantu Pitarah, Sarwa ya namah Swadah
Status Hyang Pitara: Ong Ayantu Pitara Dewa, Ayantu cariman pujam, Ayantu I A Se Te I, Siprathisto siprathisto, ya namah swadah, Ong nama wah pitaro suksma ya namah swadah. Ong namo wah pitara turya ya namah swadah. Ong nama wah pitaro ktan, ya namah swadah.
Pengabenan sepatutnya disertakan “Pengaskaran” (Samskara Atma Preta) baik Utama, Madya, Nista. Prinsipnya Petra itu harus diproses agar menjadi sifat pitara, kemudian disucikan lagi menjadi Dewa Pitara, disucikan lagi menjadi Hyang Pitara (Betara Hyang), agar bias distanakan di Pemerajan (Hyang Kemulan). Jika tidak melaksanakan Pengaskaran berarti belum sempurna penyucian terhadap Sang Petra, hal inilah yang dapat merusak jagat.
Upakara dasar Pengaskaran adalah sebagai berikut:
Upakara surya paling kecil memakai banten “Ardha Nareswari, Banten pebersihan, Banten Dyus Kamaligi, Banten pisang jati, Banten kerayunan, Banten Peguruyagan, dapat diganti dg banten Guru Piduka, Banten Penebusan, Banten Penebusan alit, Banten pengadang-ngadang, Laban Kalika, Caru ayam brumbun, Laban rare, Laban kawah, Laban Cikrabala dan Kingkarabala (tetandingan balung Gegending dan Ketupang
.

Sarana Pengaskaran
  1. Bale Pawedan (Pamiosan) untuk pandita. Jika di mrajan, Bale Piasan bisa digunakan untuk Pamiosan pandita. Dibuat leluhur.
  2. Banten pengajuman kajang, banten pemerasan.
  3. Sanggah surya: daksina, sesantun, suci 2 soroh, pejati, peras, pengambean, sesayut ardenareswri, rayunan putih kuning, rantasan, pesucian, klungah nyuh gading (dikasturi).
  4. Banten di sor sanggah surya: pejati dan suci asoroh, gelar sanga, segehan cacahan.
  5. Banten arepan sawa: banten ayaban (pemereman), uel kurenan, sesantun, suci, banten saji, panjang hilang matah lebeng, banten pengadang-ngadang, bubuh pirate putih kuning, nasi angkeb, penek catur warna, caru beten kolong sawa, diyuskamaligi, pejati, eteh-eteh pemetikan (gunting, blayag, tunjung putih), pemanahan, caru siap brumbun (caru tapakan sawa).
  6. Banten pengresikan: Prayascita, Bayekawonan, durmanggala, lis bale gading, pengulapan.
  7. Banten arep sulinggih: daksina gede, sesantun alit, suci asoroh, pejati, peras, pengambean, pemanisan, segehan warna lima asoroh.

Makna Berbagai Simbol Pengaskaran
1.      Tirta Pengentas: Pe = pegat, ngen = ngen-ngen = trena, tas = hangus. Tirta Pengentas untuk memutuskan dan menghilangkan Tresna agar kembali kepada kekuatan amertha yaitu ke Siwa Merta.
2.      Tirta Pemanah artinya: toya berasal dari sindhu atau hindu atau windhu artinya kosong atau sunya. Pemanah artinya: pe dan manah = alam pikiran. Tirta Pemanah = untuk mengembalikan  Panca Maha Butha berdasar ketulusan hati.
3.      Toya Penembak: pe = pemutus; nembak = pembuka jalan. Tirta Penembak: untuk memutuskan agar terbentuk jalan ke Sunya Mertha.
4.      Pengawak Adegan: simbul dari Panca Maha Butha. Wakul simbul pertiwi, sampian simbul akasa, kwangen simbul apah, tongkat adegan simbul bayu, prerai simbul teja.
5.      Tiga Sampir: untuk memendak toya pemanah dan memendak daun beringin. Tiga sampir sebagai simbul tiga sosok apsari: Widyadari Nilotama, Widyadari Supraba, Widyadari Ken Sulasih. Ketiganya utusan Dewata untuk membawakan tirtha pawitra sebagai tirta penglukatan.
6.      Baju antakesuma: sebagai simbul kekuatan pelepasan dalam proses pengembalian Panca Maha Butanya kepada sumbernya dalam arti mengandung konsep Moksartham Atmanam.
7.      Payung Pagut: untuk mendak toya pemanah atau mohon daun beringin, sebagai simbul Bale Salunglung yaitu stana para Dewata mengadakan peparuman untuk memberikan keputusan kepada setiap mahluk di dunia yang Beliau kehendaki sesuai dengan kodratnya.
8.       Puspa Lingga: pada upacara pemukuran yang menjadi obyek penyucian adalah badan puspa lingga. Setelah Panca Maha Butha disucikan, kemudian distanakan di pengawak adegan. Tapi setelah menjadi puspa lingga, Panca Maha Buta menjadi Panca Tan Matra dan dibuatkan simbul sebagai berikut:
a.         Tangkai sekah dari bambu buluh gading sbg simbul Ganda Tan Matra
b.         Daun beringin sebagai simbul Rasa Tan Matra
c.         Jemeknya (mirahnya) sebagai simbul Rupa Tan Matra
d.        Menurnya sebagai simbul Sabda Tan Matra
e.         Namenya sebagai simbul Sparsa Tan Matra.
9.      Kwangen Pengerekan (ngereka). Kwangen penyolasan untuk mengisi persendian berisi 225 uang kepeng (jumlahnya 9 artinya pranawa/pralina). Gegaleng 250 dijumlah menjadi 7 artinya sebagai simbul sapta sunia.
10.  Daun beringin. Sang Hyang Widhi pada waktu menciptakan se-isi alam bermanifestasi menjadi Sang Hyang Prajapati. Sang Hyang Prajapati bermanifestasi menjadi Sang Hyang Kalpa Wrksa dengan pangkal pohonnya berada di alam sorga, sedang ujungnya berada di alam semesta (Pohon Beringin Sunya Mertha). Kalpa Wrksa ini bermanifestasi ke alam semesta sebagai:
a.       Ranting (bangsingnya) menjadi sarwa denawa, danuja dan sarwa raksasa
b.      Daunnya bermanifestasi menjadi kekuatan Panca Maha Butha
c.       Batang pohon bermanifestasi menjadi kekuatan urip dari semua mahluk
d.      Cabangnya menjadi karma dari semua mahluk dunia
e.       Bunganya menjadi sarwa dewa, sarwa dewata sbg kekuatan Betara di alam ini.
f.       Buahnya menjadi hukum Rta-nya Sang Hyang Widhi.
g.      Setetes air yang gemerlapan di ujung daunnya sbg percikan atma ke  alam semesta ini (Lontar Praja Pati Tattwa).
11.  Kekecer: sarananya: tangkai bambU, seuntai padi, bulu ayam, bulu angsa, kain sutra. Digunakan pd waktu jenasah diberangkatkan ke setra , kececer ditancapkan setiap 9 meter sambil menghaturkan banten peras jalan. Sebagai pembuka jalan dan mengandung konsep Moksrtam Atmanam. Padi = pada= padang = galang apadang. Bulu angsa = angesah artinya telahpergi. Bulu ayam = simbul panca maha butha. Kain sutra = panca maha butanya telah disucikan shg berwujud lebih halus.

Upacara Pangaskaran
Upacara pengaskaran (Inisiasi) memisahkan pengaruh suksma sarira terhadap antah karana sarira (roh). Inisiasi dilakukan terhadap adegan (simbul atman atau roh atau purusa atau antah karana sarira) dengan melaksanakan dwijati terhadap roh yang meninggal, bukan jasadnya. Dwijati ditandai dengan acara pemetikan adegan.
Urutan upacara pengaskaran adalah sebagai berikut:
1.    Ngeringkes kajang, digulung oleh pemangku dg penglingsir dan keluarga. Letakkan kembali di Bale Pengajuman.
2.    Sang Pemuput melakukan:
a.    Ngarga Tirta
b.    Surya Sewana
c.    Ngangge Giri Pati Stawa
d.   Ngangge Brahma Stawa.
3.    Untuk pengabenan welaka tingkat madya dan kanista boleh menggunakan tirta sudah puput (wiweka jnana).
4.    Mujanin pedudusan selengkapnya
5.    Tirta yang dibuat Sang Pemuput:
a.       Manah toya (jika belum manah toya ditempat toya). Membuat tirta pemanahan (manah toya) tiga kali pada tirta jun (air klebutan) dengan panah dan bunga teratai.
b.      tirta pareresik, tirta pengajum kajang, tirta pengringkes kajang, Tirta pasupati kajang dan pasupati adegan.
c.       tirta penembak. Air (tirta) ini dicari oleh keluarga pada tengah malam di air klebutan.
d.      tirta pebersihan, tirta saji, tirta pemerasan, tirta pengentas, tirta pralina, tirta penyaeb, utik gni pemrelina (Korek api dan kayu api khusus dipakai nyulut api pertama di pemuhunan).

6.    Memercikkan tirta ke kajang dan adegan.
7.    Ngutpeti Dewa Damar Kurung sampai selesai
8.    Ngutpeti Butha Petra
9.    Nguweci Desa, lalu mesirat keluhur dengan astra Sriyambhawantu.
10.    Puja ngumpulang Dewa termasuk Hyang Prajapati
a.       Aturin Dewa Pratista
b.      Aturin udanjali dan pedudusan selengkapnya
11.    Puja “Banten Penebusan” sampai selesai pemuktiannya
12.     Lukat Sang Atma Banda”, ngeseng rebegeding atma petra dening puja “Merta Karani”
13.    Angesahakna sang atma petra saking banten krayunan, surupakna maring adegan, didasari dengan puja pengupeti atmapetra, dan rangsukakna mantra “Unapa Bhiseka” selanjutnya disambung dengan Puja Ayantu Atma Petra paweha “Diyus Kamaligi”, lanjut Puja Tigantu, Tisthantu, lalu henengakna sang atma.
14.    Lanjut “memuja keluhur”, ngaturang “puja pejaya-jaya” kehadapan Bethara dengan “Pradnya Paramitha”.
15.    Nama Pengaksaran. Tuduhan sang Atma dening idep, muspa ring Betara Surya, Sang Hyang Prajapati, Betara Guru, dan kehadapan Betara Siwa Dharma untuk memohon penugrahan sebagai sisya pengaskaran serta memohon Nama Pengaskaran.
16.    Penapakan: Memanggil sang atma untuk dibersihkan. Berikan wangsuh pada nilah, nyuwun kehadapan Betara Siwa Dharma kasinanggeh Dang Guru, kemudian ditapak dengan penuntun Surya (Sapta Ongkara) tidak dengan kaki sang pemuput, hanya dengan kekuatan jnana.
17.    Mepetik. Ambil “pengerebodan” tiwakin kepada adegannya, kemudian mengambil gunting, bunga tunjung putih, lalang seset mingmang (panca mustika) idep megunting rambutnya secara panca muka, kenyataannya secara simbul megunting ampyagnya sebanyak 5 kali. Bekas guntingannya dimasukkan kedalam blayag dan diisi kwangen. Kemudian diberikan eteh-eteh pedudusan selengkapnya.
18.    Kemudian dautaknya sang atma maserana bunga kalpika, melaksanaka Puja Pengesengan, agar menjadi ongkara sungsang nunggal kelawan sang pemuput mengaran ongkara madumuka. Seolah-olah sudah menunggal sang Sisya kelawan dangguru. Kemudian berikan tirta penglukatan, pebersihan dan puja pejaya-jaya, puja Pitra Byah, nama pitra, rangsukan mantra ke jero, jaya-jaya dengan Mantra Swaha Swada, pengidepnia sudah disaksikan oleh para leluhurnya yang telah berstana di pisang jati , selanjutnya mesirat di pisang jati.
19.    Kemudian nguncarang Puja Gangjantu, Jagrantu, dan nguncarang Puja Dewa Pitara Pratistha, pangidepnia sang pemuput, disuruh Dewa Pitara mengingat sanak keluarganya, disinilah baru disertakan membaca Mpu Plutuk Aben dan Pustaka Adhi Parwa.
20.    Selanjutnya Sang Pemuput mesirat keluhur, Ngaturang Dewa Buktem, serta Muktiang ke Dewa, kemudian mujanin Saji Dewa Tarpana, pemuktian saji kepada Dewa Pitara.
21.    Selanjutnya mujanin banten bebangkit (kalau ada). Kalau tidak ada, hanya banten pengadang-ngadangnya saja, sampai selesai pemuktian.
22.    Nguncarang Puja Pemerelina Butha.
23.    Malih mesirat keluhur, jaya-jaya ring Betara ngangge Puja Indrani Kesama Jagatnatha.
24.    Selanjutnya keluarga dituntun pengubaktiannya kehadapan:
a)      Sang Hyang Surya
b)      Sang Hyang Prajapati
c)      Sang Hyang Siwa Dharma
d)     Dewa Pitara
25.    Terakhir Sang Pemuput memberikan pewisik kpd Dewa Pitara. Dilanjutkan Puja Pengelepas Dewa Pitara agar kembali ke Sangkan Paraning Dumadi. Kalau upacara pengabenannya memakai upacara matetangi, maka tidak memakai puja pengelepas, hanya memakai puja pesimpen.
1)        Hanya Pandita yang sudah medwijati dan mapulanglingga yang diperkenankan muput pengaskaran. Pinandita ekajati tidak wenang ngaskara. Apabila dilanggar maka „nyumuka”.
2)        Setelah pengaskaran dilanjutkan dengan „pejayan-jayan”  dan pebaktian seluruh keluarga.
3)        Dilanjutkan Pemerasan dan tarpana saji, dimana adegan dan kajang mengelilingi banten pemerasan diikuti oleh sanak keluarga semua termasuk cucu dan buyut.

UPACARA MEBUMI SUDHA
Upacara pembersihan dan penyucian ditempat pengesengan sawa berdasar nista, madya, utama. Tujuannya menyucikan tempat pengesengan dengan tirta Kahyangan Tiga, tirta Kawitan, Tirta Pengentas. Tirta ini tidak kena kecemeran. Dilakukan pada semua jenis pengabenan.
UPACARA PEMRELINA DAN MEWANGUN SEKAR TUNGGAL DI SETRA.
Setelah adegan atau jenasah selesai dibakar, arangnya ditutupi pelepah daun pinang (papah buah) yang daunnya sudah disurat bergambar “Cakra”. Kemudian disiram dengan Toya Pemanah. Kmudian arang tulang diambil satu persatu menggunakan sepit atau cincin permata mirah Windhusara, diletakkan dalam kukusan. Dibersihkan lagi dengan air kumkuman. Selanjutnya dilakukan “pangerekan” diatas “Panca Layuan” serta disucikan lagi dengan eteh2 pesucian. Kemudian arang tadi digilas  diatas sebuah sesenden, kemudian dibungkus menjadi sekah tunggal.
Makna berbagai uparengga yang
digunakan adalah:
1.      Penutup pelepah daun pinang: makna kembalinya ke unsur2 Panca Maha Butha dan penumadiannya nanti tergantung buah karmanya.
2.      Toya Pemanah yang dipakai: bukan toya penembak.
3.      Arang diambil dengan cincin mirah: sarana pengentas agar unsur Panca Maha Buthanya cepat kembali ke sumbernya Sang Pencipta. Cincin mirah sebagai simbul kekuatan Siwa.
4.      Sepit sebagai simkbul kekuatan Ardha Candra sebagai simbul kekuatan nada. Setelah selesai. Wiku melaksanakan upacara pengiriman, sekah dihanyut. Sebelumnya dilakukan meprelina dimana sekah tunggal dikelilingkan di Pengesengan dengan arah prasawya (kekiri) kemudian baru nagkil ke Pemuput (wiku) untuk memohon restu.
SAWA MEKINGSAN DI GENI DAN MEKINGSAN DI PERTIWI (MEPENDEM).
Perlu menggunakan tirta Pekingsan,
karena bila sudah menggunakan tirta Pekingsan maka sewaktu-waktu dapat melaksanakan upacara pengabenan. Namun jika tidak menggunakan tirta pengentas pekingsan maka  tidak diperkenankan  ngaben sebelum setahun dipendem (Lontar Yama Purana Tatwa).
UPACARA PEMUKURAN/PENYEKAHAN/PENGRORASAN
Mukur asal katanya Bhuk (alam bawah), Ur atau urdah (swah loka). Mukur adalah proses penyucian lanjutan dari unsur-unsur Panca Mahabuta agar manjadi status Dewa untuk dikembalikan kealam kedewataan shg disebut Dewa Pitara dan pada puncak kesuciannya disebut Hyang Pitara.
Uperengga pada Damar Kurung
mempergunakan simbul Kupu-Kupu Dedari (seekor kupu2 berkepala widyadari) sebagai simbul wahanyanya Hyang Pitara pulang ke sumbernya. Ini terlihat dari puja Penglepasan Pitra memohon kepada Sang Kepupu Wong. Demikian juga pada upacara pengabenan, damar kurungnya berisi simbul burung garuda berkepala raksasa sebagai wahanya Dewa Pitara. Puja Penglepasannya memohon kepada Kaki Badra Lim  (manuk Raja) untuk mengantar Dewa Pitara ke sumbernya.


UPACARA PENGLIWETAN
Upacara pemukuran disertai upacara Pangliwetan. Pengeliwetan mengandung maksud dan tujuan Pengeluweran yaitu mengembalikan unsur2 Panca Maha Butha, unsur Roh dan unsur atmanya kealam masing-masing yaitu: unsur Panca Maha Buthanya ke Prakerthi Tattwa (kekuatan acetana), sedangkan unsur rokhnya kembali ke Purusa Tattwa dan unsur atmanya kembali ke alam Parana Nirbana (kealam moksa). (lontar Tattwa Jnana). Dalam proses Ngeliwet, dibuatkan bubur nasi yang berasnya diseruh sebanyak 11 kali (simbul dari alam Siwa. Angka 11 jika dijumlah menjadi 2 (simbul Windu Sunia) atau alamnya Siwa. (Lontar Tutur Saraswati). Bubur ini dicampur dengan menyan, madu, empehan (lontar Pengerorasan), bukan telur goreng dan bawang goreng. Menyan sebagai simbul Sang Hyang Brahma (mengembalikan unsur Panca Maha Buthanya), madu sebagai simbul kekuatan Sang Hyang Wisnu (mengembalikan unsur
rokhnya), empehan sebagai simbul kekuatan S
ang Hyang Siwa (mengembalikan unsur Atmanya.
Setelah bubur kental kemudian dikepal-kepal 108  buah sebagai simbul titik
puncak kekuatan Pralina (Tattwa Samkhya) dari angka 108 menjadi 9 merupakan
angka sakti Hindu (titik lebur), sedangkan angka 0 merupakan simbul Windhu
Sunia.
UPACARA NILAPATI
Upacara Nilapati adalah upacara ngeluwuirang Hyang Pitara atau Dewa Hyang setelah pemukuran atau penyekahan. Nilapati asal katanya Nila (hitam) yaitu Wisnu sebagai simbul kehidupan setelah kematian. Upacara Nilapati adalah suatu upacara untuk menstanakan Dewa yang berada dalam alam kehidupan yang tidak nyata.
INDIK PEDEWASAN PENGABENAN
Ada hari (dina) yang biasanya dihindari dalam pengambilan dewasa atiwa-tiwa atau pengabenan. Pelanggaran terhadap pengambilan dewasa dipercaya akan menimbulkan hal-hal yang fatal dalam kehidupan sosial. Beberapa hari yang dihindari adalah.
Was Penganten. Tidak boleh dipakai hari penguburan dan ngaben. Pahalanya
dapat mengakibatkan kematian berturut-turut dalam satu banjar dan keluarga yang
ditinggalkan tidak putus-putusnya kegeringan.
Semut Sedulur. Juga tidak boleh. Pahalanya tidak putus-putusnya ada
penguburandalam satu desa dan keluarga yang ditinggalkan tidak putus
-putusnya
menemukan kesusahan.
Catus Pemanggawan. Pada perhitungan hari ini tidak diperkenankan penguburan
atau ngaben. Kasureksa De Betara Yamadipati tan sida sang Pitra ngemangguhin
swargania.
Kala Gotongan. Tidak diperkenankan karena sang Pitra tidak habis-habisnya
menemui sengsara di alam bakha.
Hari Purnama, Tilem, Piodalan Kahyangan Jagat. Tidak diperkenankan  karena hal ini disebut Amundung Kesucian Sang Hyang Siwa Butha, Sang Pitra tan urungan kesinamberaning gelap sengsara kang pitra (lontar Yama Tatwa Wariga).
Pedewasan Sejeroning Pitung Rahina. Kurun waktu 7 hari dari meninggalnya, dapat dipakai salah satu harinya namun tetap melihat larangan-larangan hari seperti diatas, ternyata dalam kurun waktu 7 hari tersebut ada hari yang dilarang asal tidak Was Penganten, masih bias memakai hari yang lain berkisar dalam tujuh hari tersebut. Tapi kalau larangan harinya lebih dari satu dan kepepet, carikan pedewasan diluar perhitungan tujuh hari tersebut,  (Lontar Aji Janantaka).
Jika  melkasanakan penguburan atau ngaben dalam kurun waktu tersbut dari
tidak ada larangan hari maka dewasa tersebut dikatakan jalan Sang maninggal
sangat utama sekali.

UPACARA NGAJUM KAJANG
Ngajum = memuji. Ngajum dalam kaitan ngaben adalah menghias atman orang yang akan diaben. Panjang kajang 1,5 – 2 meter (sedepa astamusti), ditulis dengan aksara suci (Modre). Aksara kajang terdiri dari Sodasaksara yaitu gabungan Ongkara, dwiaksara, triaksara serta dasaksara. Kajang adalah selimut orang yang meninggal yang dibawa menuju ke alam sorga. Oleh sebab itu aksara-aksara modre dalam kajang memiliki kaitan erat dengan tattwa-tattwa agama, khususnya ajaran kedyatmikan seperti tutur Kelepasan dan ajaran Kemoksan yaitu ajaran untuk mencapai tujuan akhir menuju Sang Pencipta. Ngajum kajang dilakukan sehari sebelum pembakaran.  Sarana yang digunakan untuk ngajum
kajang adalah sebagai berikut:
1.        Persiapan tempat untuk ngajum kajang berupa bale atau     meja.
2.        Kain putih sebagai dasar pengajuman kajang
3.        Selembar kain cepuk
4.        Kajang klasa
5.        Kajang pemijilan
6.        Kajang sari
7.        Ukur/wukur (uang kepeng yg dirangkai sbg manusia     disebut ukur Deling, ukur balung menyerupai tulang). Wukur adalah tempat pekoleman atma.
8.        Jarum sekitar 3 lusin (tergantung banyaknya keluarga yang     ikut)
9.        Kwangen
10.    Sekar Ura
11.    Rurub Sinom
12.    Rantasan
13.    Minyak wangi
BEBERAPA JENIS KAJANG
1.    Kajang Klasa: kajang dari sulinggih untuk alas kajang     utama atau kajang pemijilan.
2.    Kajang Pemijilan atau Kajang Utama: kajang yang dibuat     sulinggih, ditaruh paling atas. Kajang ini yang akan diajum bersama ukur.
3.    Kajang Sari: kajang dari dadia atau keluarga terdekat.     Ditaruh dibawah kajang utama.
Kajang menurut pemakainya (soroh).
1.    Kajang  Brahmana : untuk sulinggih
2.    Kajang Kesatria: untuk raja-raja
3.    Kajang Jaba: untuk walaka (diluar untuk pandita dan     raja)
4.    Kajang soroh: atau kajang sesuai kawitan masing-masing.     Kajang ini selanjutnya menjadi Kajang Utama.
Urutan penempatan ukur, kajang, cepuk dan kain putih
1.    Kasa putih (paling bawah)
2.    Kasa putih
3.    Kasa putih
4.    Kain cepuk
5.    Kajang Klasa
6.    Kajang pemijilan (paling atas)
7.    Ukur (diatas kajang pemijilan)
UPAKARA NGAJUM KAJANG
1.    Ayaban tumpeng lima
2.    Sesayut alit
3.    Suci
4.    Daksina gede (satu)
5.    Banten sorohan
6.    Banten pemelaspas
7.    Sesayut pasupati
8.    Pesucian
TATA CARA UPACARA NGAJUM KAJANG DAN PEMERASAN
1.    Pengabenan Sawa Prateka (ada jenasah) ditaruh dibersihkan dimandikan ditaruh di semanggen. Sawa Prateka (tanpa jenasah), dilakukan upacara ngendag dan ngangkid. Jika tidak diketahui kuburnya dilakukan upacara ngulapin.
2.    Sebelum pengajuman, lakukan upacara pengulapan dg sanggah Urip (tempat roh yang dipanggil akan diaben). Sanggah urip dibuat dari daun kelapa dumala, ditaruh pada adegan, ditaruh disebelah jenasah yang akan diaben di semanggen.
3.    Ngajum kajang di natar mrajan disaksikan leluhur dan Dewa Pitara, dipimpin sulinggih. Kajang dan adegan tidak kena kesebelan. Adegan adalah simbul atma dan ”atma tan kekeng kesebelan karena atma percikan dari Brahman.
4.    Kajang adalah selimut kebesaran dari atma yang akan dibawa ke sorga.
5.    Adegan dan kajang bukan bagian dari raga sarira (badan kasar/prakerti) yang kena kesebelan, melainkan bagian dr  Antah Karana Sarira (purusa)yang bebas
dari kesebelan.
6.    Pemerasan dilakukan di luar merajan, karena ada upacara simbolis sang atma turun ke alam manusia.
7.    Setelah kajang selesai di ajum maka Sulinggih mulai memuja pasupati kajang, kemudian dilanjutkan ngaskara dan upacara mepetik.
8.    Dilanjutkan dengan Pemerasan. Diikuti oleh seluruh keluarga sebatas buyut. Adegan dan kajang diarak mengelilingi upakara pemerasan sbg simbul Sang Hyang Atma turun ke dunia manusia bertemu dg keluarga.
9.    Selanjutnya adegan dan kajang diletakkan diatas peti jenasah.
10.    Menunggu pemberangkatan ka setra.
URUTAN JALANNYA NGAJUM KAJANG
1.    Siapkan sebuah asagan (bale, meja) dg kasur kecil,     tikar dan bantal. Tikar dirajah Padma ditengah padma ditulis aksara Ongkara Mertha dan Aksara Rwa Bhineda. Diatas bale2 diisi leluhur. Disamping bale ditaruh banten: ayaban tumpeng 5, sesayut alit, suci, daksina gde, sorohan, banten pemelaspas, peras pemelaspas, sesayut pasupati, pesucian.
2.    Siapkan sarana Ngajum Kajang: kain putih, selembar kain     cepuk, kajang klasa, kajang pemijilan, kajang sari, ukur, jarum, kwangen, sekar ura, rurub sinom, rantasan, minyak wangi.
3.    Letakkan kain kasa 1,5 – 2 m diatas tikar sbg alas     kajang sekaligus sbg pembungkus
4.    Diatasnya kain cepuk. Diatas kain cepuk ditaruh Kajang     Klasa
5.    Diatasnya kajang sari (bila ada) (kajang dari dadia     atau dari teman-teman)
6.    Diatasnya kajang Pemijilan (dari sulinggih). Kajang     Pemijilan ini kajang inti (kajang utama) yang akan di Ajum.
7.    Ukur. Untuk laki2: Seleh (sisi pis bolong yang berisi     dua huruf) menghadap keatas. Untuk wanita Kerep (empat huruf) menghadap keatas. Membuat ukur harus memperhatikan Seleh dan Kerep.
8.    Ngajum dimulai dg menusukkan jarum pada kajang melalui     lubang uang kepeng sehingga ukur menyatu dg kajang seperti dijarit. Diawali oleh penglingsir (pemangku/pinandita) menusuk pada bagian kepala. Yang lebih muda dari yang diaben tidak boleh menusuk pd bagian kepala.
9.    Dilanjutkan pebersihan dg air kumkuman, keramas, sisig,     minyak wangi, boreh miik seperti memandikan orang meninggal. Lanjut menghias kepala ukur dengan bunga.
10.    Memasang kwangen seperti upacara nyiramang layon, di     kepala 1, ulu hati  1, kedua siku, bahu, pergelangan tangan, pangkal paha, lutut, pergelangan kaki.
11.    Ditabur sekar rura diatas ukur, semprot minyak wangi.     (sekar rura: macam-macam bunga, kembang rampe, boreh miyik).
12.    Memasang rurub sinom (dari blangsah pinang) sebanyak 3     buah (kepala, badan, kaki).
13.    Menaruh rantasan diatasnya dan canang sari diatas     rantasan.
14.    Pemangku memercikkan tirta penglukatan, pebersihan,     prayascita.
15.    Melaspas kajang.
16.    Sulinggih memberi tirta Pengajuman (tirta pasupati     kajang) dan Tirta Saji. Bersamaan dengan pemujaan sulinggih membuat tirta-tirta: pengajuman kajang, tirta penembak, tirta pengentas, tirta prelina,tirta penyaeb, tirta penganyutan dan lain-lain.
17.    Setelah ngetisang tirta pengajuman, tirta pasupati kajang,     rurub sinom dan rantasan diambil sementara lalu dilanjutkan ngeringkes kajang. Kain putih tiga lembar paling bawah sebagai pembungkus. Sama seperti ngeringkes jenasah, laki: kain pembungkus sisi kananmenutup, wanita: pembungkus sisi kiri  menutup. Pembungkus diikat dengan benang tukelan dan tali rotan di tiga tempat, kepala, dada dan kaki. Ketiga ikatan itu disambung dengan benang memanjang. Rurub sinom kembali dipasang.
18.    Setelah Ngaskara Adegan selesai, dilanjutkan upacara     pemerasan. Kajang dan adegan dipanggul mengelilingi banten pemerasan sebanyak tiga kali diikuti oleh sanak keluarga.
19.    Kajang ditaruh diatas peti jenasah di Bale Semanggen.     Nantinya akan dibawa ke setra untuk dibakar.
Pelebon
Pagi-pagi sebelum berangkat ke kuburan dilakukan mlaspas bade (wadah), petulangan, dan bale gumi. Setelah mlaspas selesai lalu bersiap-siap berangkat ke kuburan. Bila karya ngaben ngwangun, maka banten mlaspas dilengkapi dengan pula gembal bebangkit. Jadi, yang berhak muput banten pemlaspas adalah Sulinggih. Banten pmlaspas ini digunakan mlaspas bade dan lembu. Misalnya, pelebon di sebuah Griya, yang muput pemereman dan petulangan adalah Pedanda dengan banten dilengkapi pula gembal bebangkit sedangkan bagi peniring di-puput oleh Brahmana walaka dan banten-nya tanpa pula gembal bebangkit.
Setelah upacara mlaspas wadah ini, maka pertama-tama yang diturunkan adalah peralatan upacara, seperti ganjaran, jemek, tiga sampir, tigasan, canang sari. Lalu disusul dengan adegan, angenan, sok bekel, pengrekan, sampai dengan kajang setelah itu baru tetukon, lis pering, panjang ilang, dan lain-lain. Kemudian di depan sawa berjejer tah bakang-bakang, cegceg,  dan sekarura. Terakhir baru sawa diturunkan perlahan-lahan. Baru turun sawa dismabut dengan segehan agung dengan caru penghalang dewasa. Dengan menginjak segehan agung ini sawa digotong ke luar dengan upacara berjalan terlebih dahulu. Berikutnya sawa dinaikkan ke wadah atau bade. Turut pula dinaikkan kajang, pengrekaan, dan angenan. Setelah siap bade diberangkatkan. Cegceg dipasang terlebih dahulu di sepanjang jalan. Orang yang memanjang menaburkan sekarura. Sawa yang ada dalam bade dituntun oleh pretisentananya.
Peralatan upacara hendaknya berjalan terlebih dahulu. Tetabuhan, seperti angklung, gong denan tabuh bebatelan mengiringi bade sedangkan gender dan wayang ada pada bade, digelar berjejer melakonkan Bima Swarga. Setiap sampai di simpang empat bade diputar tiga kali maprasawya sebagai simbolik untuk kembali ke aslanya (pralina). Demikian pula setelah sampai di kuburan. Setelah berhenti di depan petulangan sawa diturunkan. Lebih dulu diturunkan upakaranya seperti pangrekaan, kajang dan angenang. Petulangan disapu dengan rambut pretisentananya sebagai tanda hormat dan cinta yang mendalam. Setelah itu sawa  perlahan-lahan diangkat dan diletakkan di petulangan itu. Tah mebakang-bakang dipakai membuka bandusa dan pembungkus sawa itu. Tinggalkan pakaian yang putih saja. Monmon yang ada di mulutnya diambil. Sawa dapat dibungkus lagi dengan kain yang ikut dibakar. Lalu disertakan kain baru untuk segera dipercikkan tirtha. Pertama diperciki tirtha penembak, tirtha panglukatan/pabersihan. Terakhir barulah tirtha pangentas, tirtha di kawitan dan merajan. Setelah selesai diperciki tirtha, sawa ditutup dengan pangrekan, kajang, gagatuk, ponjem, dan angenang. Di bawah sawa diletakkan adegan, tatukon, panjang ilang, dan nasi angkeb.
Sawa kemudian dibakar dengan cittagni  dan sekarang memakai kompor bukan lagi kayu api. Begitu api dinyalakan iber-iber dilepaskan. Setelah sawa terbakar habis, maka dihaturkan ajengan geblagan dan api dimatikan dengan air penyeheb. Mulaialah nyupit galih dan arang kemudian ditaruh dalam senden disiram air kumkuman  dan dihaluskan di sebuah bale pering. Setelah halus dimasukkan ke dalam klungah nyuh gading yan telah dikasturi dan kemudian dibungkus dengan kain putih dibuatkan prerai dari kwangen dan dihias dengan bunga. Bagian tulang yang kasar di-reka dengan kwangen setelah itu bersama sekah diletakkan dalam bokor dan diletakkan di jempana yang berfungsi sebagai tumpeng salu. Upacara nganyut dapat dilakukan pada hari itu juga yang disebut tandang mantra dengan tujuan untuk mendapat peleburan di laut. Selesai nganyut dilanjutkan dengan mapegat yang dilaksanakan di pintu masuk pekarangan rumah sebagai pemutusan hubungan duniawi dengan mereka yang dilepas.

Makelud
Upacara ini dilakukan tiga hari setelah upacara pembakaran dengan melakukan upacara pecaruan di merajan dengan caru ayam brumbun dengan penyepuhan asoroh, sedangkan di halaman rumah dengan caru ayam brumbun dan bebek belang kalung serta di bale tempat meletakkan jenazah.
Selain kajang yang nunas di Griya, ada pula yang disebut dengan kajang kawitan. Kajang yang merupakan kulit dan selimut/kemul mulai banyak dicari oleh orang Bali saat mereka mulai mencari dari mana asalnya, soroh apa, sehingga saat upacara ngaben, kajang yang umum ada berdasarkan lontar yan ditadisikan secara turun temurun telah membuat masyarakat Hindu di Bali akan mencari kawitan dan kajang yang dibuatkan pula disesuaikan dengan kawitannya berasal dari mana.
Seperti halnya sangsangan yang dipasangkan di kedua sisi wadah akan disisapkan pula oleh produsen sehingga bila dalam ngaben ngiring yang diikuti banyak pengiring akan terlihat hal yang sama sebagai sebuah produk massal kecuali si konsumen menambhakannya dengan kain (kamen), dan selendang yang serasi dalam tata warna sehingga ada sesenggakan Bali mengatakan buka awak penyangsangan yang artinya apa saja busana yang dikenakan oleh seseorang akan pantas dan menarik sesuai bentuk tubuhnya.
Dalam mengusung jenazah ke patunon kini memakai teknologi dengan menepatkan roda di bawahnya. Hal ini akan memudahkan yang akan ngarap sawa tersebut. Hanya semangat bersama sebagai rasa solidaritas dan perasaan briak-briuk tidak akan tercipta kalau mengusung sawa dengan adanya roda, walaupun itu memudahkan dalam perjalanan menuju patunon, tetapi ada sesuatu yang hilang, yaitu rasa kebersamaan sesama karma banjar.
Pada era globalisasi ini perubahan pekerjaan masyarakat Bali turut menentukan dalam melaksanakan kegiatan upacara. Misalnya, upacara ngaben dengan memakai wadah yang berisi roda di bawahnya itu disebabkan karena masyarakat Bali sekarang sudah tidak bisa metegenan. Kalau masih dalam masyarakat agraris sebuah keluarga termasuk ayah dan anak-anaknya akan melakukan kegiatan metegenan, baik itu untuk mengangkut hasil panen berupa padi maupun kegiatan lainnya. Kalau sekarang dengan bekerja di sektor public apalagi di daerah industry/pariwisata, maka akan pula membawa perubahan dalam hal melakukan pekerjaan. Dengan demikian, alternatifnya adalah memakia roda. Beliau menambhakan memakai roda untuk alas sawa menuju ke setra bukan merupakan sebuah aktivitas yang baru karena di dalam Mahabarata yaitu pada saat kematian Panca Kumara pun jenazah kelima puta pandawa itu dibawa dengan kereta hanya ditarik oleh kuda. Sekarang sawa memakai roda tanpa kuda, tetapi ada beberapa orang di samping-sampingnya.
Pola-pola konsumsi yang telah melanda masyarakat Bali tidak lepas dari gaya hidup dan budaya konsumen kini masyarakat meninginkan kepraktisan dalam menyiasati waktu agar bekerja di sektor public tetap dapat dilakukan dan uoacara ngaben tatap dapat dilaksanakan, maka keefektivan dan keefisenan dilakukan dengan jalan membeli pada sebuah Griya terutama kepada Griya yang menjadi Siwa-nya karena keterikatan pada siwa menyebabkan pembelian komoditas ngaben tetao dilakukan dengan siwa-nya karena siwa juga akan lunga untuk muput upacara ngaben sisya-nya yang membeli.
Gaya hidup yang mengarah kepada budaya instan telah pula menjadi pemicu komodifikasi itu terjadi karena ternyata seorang karma dalam melaksanakan ritual ingin hidup yang praktis atau instan tingal menyerahkan uang, maka barang sudah didapatkan.
Chaney (1996:8) menyatakan bahwa “perubahan pola distribusi menuju konsumsi telah dialami masyarakat Indonesia mutakhir sejalan dengan sejarah globalisasi  ekonomi dan transformasi kapitalisme konsumsi yang ditandai dengan menjamurnya pusat perbelanjaan bergaya semacam shopping mall, industry waktu luang, industry mode atau fashion, industi kecantikan, industry kuliner, industry nasihat, industry gossip, kawasan huni mewah, apartemen, real estate, gencarnya iklan barang-barang super mewah, dan liburan wisata ke luar negeri, dan tentu saja serbuan gaya hidup lewat industry iklan dan televise yang sudah sampai ke ruang kita yang paling pribadi, dan bahkan mungkin ke relung-relung jiwa kita yang paling dalam.”
Di tengah gaya hidup kosumerisme di kalangan sebagian masyarakat, mencuat pula gaya hidup alternative, gerakan untuk kembali ke alam, ke hal-hal yang diangap bersahaja, semacam kerinduan akan kampong halaman atau surga yang hilang, dan gaya hidup spiritualisme baru yang seakan-akan menjadi antithesis dari glamour fashion yang sekarang sudah tidak malu-malu lagi dipamerkan oleh kaum borjuas Orang Kaya Baru (OKB) di Indonesia. Siapakah yang tidak menjadi bangga menjadi orang kaya dan takwa. Lagi pula buat apa susah-susah menjadi kaya dan hidup sederhana, kalau tidak bisa merasakan enaknya menjadi orang kaya. Mungkin logikanya begitu sederhana. Rupanya nafsu besar terpendam untuk meraih kekayaan dan kekayaan sebagai lambang prestise dan prestasi itupun kini harus dinyatakan, dirayakan, dan diarak di ruang public (Chaney, 1996:6).
Pada saat kesuksesan justru menguat ke arah yang bersifat materialistic, semangat spiritualisme baru pun ternyata mengalami polesan lebih canggih lagi dalam budaya konsumen. Chaney melihat misalnya ketika kebangkitan agama mengambang di level simbolik, symbol-simbol, tanda-tanda, dan ikon yang diyakini sebagai artefak ketakwaan seseorang justu telah terkomodifikasi menjadi obek konsumsi. Hari-hari keagamaan pun bisa menjadi semacam “festival konsumsi”. Semangat pergantian mode dan fashion dalam tata busana penganut suatu agama tertentu justu dimanfaatkan oleh industi iklan dan televisi untuk keuntungan bisnis semata. Di sini, kebangkitan semangat keagamaan di kalangan tertentu juga harus kkita pahami sebagai kebangkitan gaya hidup.
Chaney (1996 :10) melihat dalam hal ini tengah ditanamkan semacam idiologi samar-samar terbentuk beragama, tetapi tetap trendi atau biar religious, tetapi tetap trendi atau biar religious, tetapi tetap modis. Rupanya para pemikir keagamaan mutakhir harus mulai melihat bahwa sensibilitas keagamaan pun mulai mengalami komodifikasi (menjadi komoditas) di pentas konsumsi massa. Dia mengira gejala tumbuhnya pusat-pusat penyemaian dan pemekaran gaya hidup yang mulai marak sejak 1990-an tampaknya pada awal 2000-an ini sudah tidak bisa dianggap sepele lagi. Gejaola yang demikian serius dan kompleks sudah tertentu memerlukan pengamatan dan kajian yang sistematis, ketat, dan mendalam.
Gaya hidup dianggap merupakan proyek yang lebih penting daripada aktivutas waktu luang yang khas dan Gidens sendiri mengingatkan bahwa gagasan gaya hidup telah dikorupsi oleh konsumerisme, meskipun pasar terutama setelah menjadi tema idiologis dalam politik neoliberal, sepertinya menawarkan kebebasan memilih dan dengan demikian bermaksud mempromosikan individualism. Komodifikasi kedirian (selfhood) melalui genre-genre narasi media (media narratives) begitu pula stategi-strategi pemasaran, menekankan gaya pada biaya investasi makna personal.
Dalam gaya hidup penampilan diri itu justru mengalami estetitasi kehidupan sehari-hari dan bahkan tubuh/diri (body/self) pun justru mengalami estetitasi tubuh (tubuh/diri) dan kehidupan sehari-hari pun menjadi sebuah proyek, benih penyemaian gaya hidup “Kamu berada maka kamu ada” atau “kamu berbelanja maka kamu ada” adalah ungkapan yang mungkin cocok untuk melukiskan kegandrungan manusia modern akan gaya.
Ketika gaya menjadi segala-galanya dan segala-galanya adalah gaya, maka perburuan penampilan dan citra diri akan masuk pula ke permainan konsumsi. Bukankah, menurut ahli sejarah, Johan Huizinga dalam karya klasiknya Homo Ludens dalam permainan gaya itu sendiri sudah terkandung pengakuan tentang adanya unsur permainan tertentu. Kalau dalam gaya itu sendiri sudah melekat unsur permainan, maka sudah bisa dipastikan unsur-unsur yang memebentuk gaya hidup akan menjadi komoditi dan ajang permainan konsumsi. Konsumsi pun menjadi sebuah tontonan. Apalagi produk yang memanfaatkan kekuatan citra bisa menjadi perlambang bagi kolektivitas social terutama dengan memakai asosiasinya denan gaya hidup.
Demikian pulalah yang dilakukan oleh masyarakat dalam industi pariwisata dalam mengelar upacara ngaben yag sarat dengan penampilan gaya hidup, walaupun sebenarnya ngaben adalah upacara kematian yang penuh duka, tetapi upacara dibuat semarak dan penuh kegembiraam karena jamuan tetap dilaksanakan setiap hari sebelum upacara pelebon dilaksanakan dan sebelum uapacara pelebon dengan keberangkatan jenazah ke kuburan dilaksanakan, maka jamuan terhadap undangan dan siapapun yang datang tetap berlangsung, setelah semua itu terlaksana barulah jenazah diberangkatkan ke kuburan sehingga keberangkatan itu terjadi pada siang hari.
Sarana Upacara Ngaben
1.    Bade dan Wadah
Penekun lontar sekaligus undagi bade asal Kesiman I Wayan Turun mengatakan bade dan wadah merupakan simbol dari sukuning (bagian bawah) dari Gunung Maliawan. Bade atau wadah memiliki fungsi sama sebagai sarana pemberangkatan jenazah ke setra dalam upacara pitra yadnya. Namun, secara fisik, kedua sarana itu sebetulnya memiliki perbedaan. Ditegaskan, jika menggunakan tumpang (atapnya bertingkat-red) disebut bade, sedangkan yang tidak bertumpang disebut wadah. Namun, wadah bisa disebut bade jika menggunakan palih bade seperti bacem, batur, taman, sari. ''Perbedaan istilah ini mesti dipahami oleh masyarakat, terlebih bagi seorang undagi supaya tidak rancu,'' ujarnya seraya menegaskan seorang undagi mesti tahu sedikit aksara Bali dan senang membaca tatwa-tatwa atau prasasti karena di sana terdapat bermacam-macam aturan mengenai pembuatan bade serta filosofi yang terkandung di dalamnya.
Dikatakan, selain berbentuk bade dan wadah, ada juga sarana pitra yadnya yang bisa disebut bade namun bentuknya sedikit berbeda, yakni balai pebasmian. Bentuknya seperti bangunan balai yang di dalamnya berisi bale kantil tempat jenazah, dilengkapi dengan pepalihan seperti boma bersayap, macam-macam kekarangan, kekitir, brapakat, dll. Jika dikaitkan dengan catur warna dalam konsep profesi golongan manusia di Bali, menurut pegawai Museum Bali ini ada aturan khusus penggunaan bade. Misalnya, keturunan mana saja yang boleh menggunakan bade bertumpang solas (11), sanga (9), pitu (7), lima (5) dan seterusnya.
Sesuai 'Warna'
Turun menegaskan, dalam lontar-lontar disebutkan penggunaan tumpang-tumpang itu sudah diatur sesuai dengan warna seseorang. Misalnya keturunan Dalem bisa menggunakan bade tumpang sebelas (11) lengkap dengan naga banda dan kelengkapan upakaranya.

Dikatakannya, dalam Babad Arya Kutawaringin disebutkan, para Arya bisa menggunakan bade tumpang pitu (7) yang berhiaskan simbar dari kertas mas berwarna-warni, magunung tajak, karang curing, hiasan boma, hiasan garuda marep mungkur --depan belakang.
Dalam prasasti Arya Gajahpara, Arya Getas boleh menggunakan bade Taman Agung, yakni bade yang berisi hiasan bunga-bungaan dan kekarangan. Selanjutnya, keturunan Arya Kloping bisa memakai bade tumpang pitu (7), mapadma patra, makakitir, magaruda mungkur. Selain itu, keturunan Dauh Baleagung pun bisa memakai bade tumpang pitu (7), sebab mereka juga keturunan Arya Kepakisan. Begitu pun keturunan Abasan bisa memakai bade tumpang pitu (7), berhiaskan boma bersayap.
Namun, dari sekian keturunan itu, keturunan Dalem Bangkalan (Bali Aga) yang lebih banyak memiliki pilihan. Sebab, selain bisa memakai bade tumpang sanga (9), mereka juga bisa menggunakan bade tumpang pitu (7) dan tumpang lima (5).
Sementara soroh Pematolan Pande Bang, khusus menggunakan bade berwarna putih dan lembu lembu warna putih pula. Namun, lembu yang digunakan tidak ada kepalanya.
Apa saja kelengkapan bade? Menurut Turun ada sekitar 20 kelengkapan bade yakni ringring, kakitir di tiap sudut tumpang, kapas atau mangle, magunung tajak (tiap sudut berisi hiasan gegunungan), magender wayang, boma makampid (bersayap), garuda mungkur, apit lawang, brekapat, masaka anda, palih bade -- bacem, batur, taman sari, atapnya bertumpang, kekendon, macam-macam kekarangan menurut tempat, tetamanan atau bunga-bungaan, pakis, ulon, bantala, badan dara dan gagodegan. Namun, dari sekian kelengkapan bade itu yang paling inti harus ada ringring, kakitir, kapas/mangle, atapnya bertumpang, masaka anda, boma makampid dan magunung tajak.

Lontar Dharma Laksana

Dikatakan, dalam pembuatan bade, wadah dan kelengkapan lainnya mesti berpegangan pada lontar Dharma Laksana. Dalam lontar itu ada aturan dasar yang mesti dipakai seorang undagi bade. Artinya, dalam pembuatan itu tidak boleh hanya mengutamakan seni, tetapi harus sesuai dengan aturan. Misalnya, seseorang minta bade palih taman, mestinya seseorang tukang (undagi) mesti tahu apa itu palih taman. Jangan sampai karena kekurangtahuan justru yang dibuat palih gunung atau palih tanjak.

Ditambahkannuya, yang disebut palih itu sebetulnya palinggih atau tempat suci. Dalam bade, lanjutnya, selain palih taman ada istilah palih sari, palih batur dan gunug gopel. Jika empat macam palih itu disatukan disebut palih macira atau petira (agung).

Bagaimana proses pembuatan bade? Menurut Turun, berdasarkan konsep Gugu Laksana, pembuatan bade diawali dengan pencarian papah, bagian dari daun pohon kelapa. Papah itu nantinya akan dipakai untuk mengukur, baru kemudian membuat gegulak yang memiliki pengertian sederhana ''percayalah apa yang saya buat.''

Tahap selanjutnya undagi mengukur jenazah yang terbagi menjadi tiga bagian -- kepala, badan dan kaki. ''Jika sekarang mengukur jenazah bisa menggunakan meteran, tetapi beberapa undagi masih banyak menggunakan cara lama seperti satu cengkang atau guli. Jika seseorang menggunakan ukuran lama, itu sangat erat dengan keyakinan. Oleh karena itu, pengukuran dengan cara tersebut harus disertai banten ituk-ituk yakni canang tempelan, beras, jinah solas keteng (uang kepeng 11 buah), benang dan banten pejati. Ituk-ituk itu memiliki makna sebagai pemberitahuan bahwa seseorang undagi akan melaksanakan kerja.

Sanksi apa yang akan diperoleh jika seorang undagi melanggar Dharma Laksana? Turun mengatakan, secara sekala sanksi itu tidaklah mengkhawatirkan. Jika seorang undagi melanggar paling-paling masyarakat bertanya siapa pembuatnya. ''Tetapi secara niskala kita tidak tahu sanksi apa yang akan diterima, karena itu erat kaitannya dengan yang di atas --Tuhan Yang Esa yakni Dewa Siwa yang diwakili Bhagawan Wismakarma. Inilah yang kita takutkan,'' katanya. Dikatakan, jumlah pengusung bade juga ada ketentuannya. Pengusung bade pada dasarnya empat orang (kelipatan empat) yang melambangkan catur sanak -- empat saudara yang diajak seseorang saat lahir. Jadi, menurut Turun bukan pada banyak jumlah pengusung, tetapi harus kelipatan empat agar sesuai dengan lambang catur sanak.

Selain bade, tambah Turun, ada sarana penting lagi dalam prosesi ngaben yakni pepagan. Pepagan berasal dari kata baga yang berarti lamas. ''Bayi lahir kan dibungkus oleh lamas, mati pun mesti dibungkus oleh lamas yakni pepaga itu sendiri. Kita harus selalu kembali berprinsip yang sama. Lahir dan mati itu terkait erat,'' katanya.
Nagabandha
Nagabandha merupakan salah satu cara untuk melakukan upacara pitra yadnya( ngaben ). Nagabandha berbentuk seperti seekor naga yang panjang ekornya bias mencapai 3000 meter atau 3 kilometer. Di Bali upacara ngaben dengan menggunakan nagabandha hanya dilakukan oleh keluarga kerajaan saja atau orang berkasta tinggi.
Selain itu Nagabandha juga memiliki fungsi Untuk menghantarkan roh dari keluarga raja.Nagabandha juga memiliki tujuan saat dibuat yaitu Untuk mempermudah / memprcepat proses upacara pitra yadnya.

Petulangan
Fungsi petulangan dalam upacara ngaben disebutkan sangat erat kaitannya dengan kepercayaan nenek moyang terhadap binatang-binatang yang dianggap suci, keramat, memiliki kekuatan dan dijadikanlambang-lambang tertentu. SepertiWahana – Wahana paradewa Tri Murti dalam petulangan :
1.    Di Bali kepercayaan terhadap binatang lembu sebagai binatang yang disucikan. Lembu dipercaya sebagai wahananyaDewaSiwa.  
2.    Dewa Brahma dipandang sebagai dewa pencipta segala yang ada, wahananya binatang singa.
3.    Sedangkan Dewa Wisnu berfungsi sebagai pemelihara, wahananya naga. Binatang-binatang tersebut disucikan, dihormati, sebagaimana menghormati dewa-dewa dengan manifestasinya masing-masing. 
Menurut Drs. Ida Bagus Purwita dari Griya Yang Batu Denpasar, (sekarang sulinggih) meninjau dari segi filosofinya bahwa perwujudan petulangan dengan motif binatang, mengandung arti sebagai petunjuk jalan kesorga bagi roh orang yang telah meninggal dunia. Juga menurut lontar awig-awig desa adat di Denpasar milik Mangku Jero Kuta, Jagat Wewengkon Badung pemakaian bentuk petulangan diatur menurut susunan kasta yang ada di Bali yaitu sebagai berikut: 
a.    Bagi wangsa sudra memakai petulangan bentuk gedarba atau bentuk macan, atau bentuk gajah  mina. 
b.    Sang Aria memakai petulanggan berbentuk menjangan. 
c.    Sang Kesatria memakai petulangan bentuk singa. 
d.   Brahmana memakai petulangan bentuk lembu hitam dan Pendeta memakai petulangan bentuk lembu putih. 
Dengan demikian fungsi petulangan adalah sebagai berikut :
1.    Dalam pengertian umum petulangan berfungsi sebagai tempat membakar jenasah dan secara spiritual, berfungsi sebagai pengantar roh kealam roh (sorga atau neraka) sesuai dengan hasil perbuatan di dunia.
2.    Menunjukkan watak dan kewajiban seseorang dalam masyarakat.
3.    Menunjukkan rasa bakti dan penghormatan terhadap paradewa, karena dengan meniru wahananya sebagai sarana upacara. Maka seolah- olah lebih dekat dengan Ida Sang Hyang Widhi.
4.    Sebagai pernyataan rasa seni yang menimbulkan kepuasan batin bagi yang diupacarai, orang yang menyelenggarakan upacara,
Tujuan dari pembuatan petulangan :
1.     Mengembalikan unsur panca maha buta
2.     Untuk mengembalikan roh atau atman yang ada dalam diri manusia
Bukur
Bukur biasanya digunakan saat nyekah atau memukur dalam upacara pitra yadnya. Fungsi dari bukur adalah Untuk mengembalikan roh atau atman yang ada dalam diri manusia Tujuan dibuatnya bukur dalam upacara pitra yadnya Sebagai alat untuk menghantarkan roh atau atman kealamnya.


















PENUTUP


Simpulan
      Ngaben dalam bahasa Bali berkonotasi halus yang sering disebut dengan Palebon, yang berasal dari kata lebu yang artinya prathiwi atau tanah. Palebon artinya menjadikan prathiwi (abu). Untuk menjadikan tanah itu ada dua cara yaitu dengan cara membakar dan menanam ke dalam tanah. Namun cara membakar adalah yang paling cepat.
Tujuan dari upacara ngaben adalah agar ragha sarira cepat dapat kembali kepada asalnya, yaitu panca maha buthadi alam ini dan bagi atma dengan selamat dapat pergi ke alam pitra. Oleh karenanya, ngaben sesuangguhnya tidak bisa ditunda-tunda. Mesti meninggal segera harus diaben.
Landasan filosofis ngaben bisa diuraikan secara umum dan secara khusus. Landasan Landasan pokok ngabensecara umum adalah lima kerangka agama Hindu, yang disebut Panca Sradha. Panca Sradha atau lima keyakinan itu adalah:Brahman, Atman, Karmaphala, Samsara, dan, Moksa. Sedangkan secara khusus ngaben dilaksanakan karena cinta yang mendalam terhadap leluhur dan pembebasan dosa.
Upacara ngaben sebagai simbol pembayaran utang kepada leluhur sarat akan nilai, norma, dan etika sosial kemasyarakatan dan bersifat religius adalah representasi dari sikap seorang anak yang hormat, berbakti, dan cinta kasih kepada leluhurnya. Upacara ngaben merupakan perwujudan dan pengejewantahan sradha dan bhakti seorang anak kepada orang tua atau leluhurnya.
Saran
Masyarakat Hinduk hendaknya dapat meningkatkan wawasannya tentang upacara ngaben. Hal ini dimaksudkan agar banyak belajar dari sumber-sumber sastra sehingga setiap melaksanakan upacara agama berdasarkan sastra suci Hindu.



Daftar Pustaka
Kaler, I Gusti Ketut. 1993. Ngaben Mengapa Mayat Dibakar?.Denpasar: Yayasan Dharma Naradha
Girinata, Drs. IMade. M.Ag, Acara Agama Hindu I, Institud Hindu Dharma Negeri, Denpasar, 2009.
Tim Penulis Dan Penyusun Buku Agama Hindu, Panca Yadnya, Pemda Tingkat I, Bali, 1996/1997.
Wiana, I Ketut. 2004. Makna Upacara Yajna Dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita
Wikarman, I Nyoman Singgin. 2002. Ngaben Upacara dari Tingkat Sederhana sampai Utama. Surabaya: Paramita.
Tary Puspa, Ida Ayu. 2013. Bali Dalam Perubahan Ritual Komodifikasi Ngaben di Era Globalisasi. Denpasar: Arti Foundation.
Pemerintah Propinsi Bali. 2006. Lontar Yama Tattwa, Yama Purana Tattwa, Yama Purwa Tattwa, Yama Purwana Tattwa. Denpasar. UPD PUSDOK Dinas Kebudayaan Propinsi Bali



1 komentar:

  1. Tulisan ini sangat bermanfaat. Apabila ada literatur tentang tata cara pelaksanaan upacara nilapati dan mantra2nya, saya mohon bantuannya untuk dibagi. Suksma

    BalasHapus