Minggu, 21 Juni 2015

Tradisi Magoak-goakan

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latarbelakang
Umat Hindu banyak tersebar di Indonesia, masing-masing mempunyai budaya dan tradisi yang berbeda-beda. Namun semua perbedaan itu merupakan jalan untuk mencapai tujuan agama hindu yang patut kita lestrikan. Dengan demikian pemeluk Hindu senantiasa dimotivasi untuk terus berkreasi untuk mengembangkan agama Hindu. Kreasi dan tradisi harus senantiasa membawa visi dan misi yang telah ada dalam kitab suci agama Hindu. Mahatma Gandhi mengatakan, berenang di lautan tradisi adalah suatu keindahan. Namun kalau sampai tenggelam dalam lautan tradisi adalah suatu ketololan (Wiana, 2002: 3).
Dalam kaitannya dengan budaya Bali pada awal pertumbuhan para tokoh menjadikan keyakinan agama Hindu sebagai pendorong munculnya budaya adalah ide, aktivitas, dan budaya materi tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu (Koentjaraningrat 1974:19). Salah satu tradisi yang ada di Bali, dan dilakukan oleh masyarakat Panji adalah tradisi Magoak-goakan. Tradisi ini dimainkan oleh anak-anak hingga orang tua yang berada di desa Panji. Dalam permainan Magoak- goakan, ini dilakukan berbeda pada tempat lain, dimana yang dimainkan pada saat Ngembak Geni, yang merupakan rangkaian hari raya Nyepi. Magoak-goakan diyakini oleh masyarakat setempat bertujuan untuk mejaga hubungan yang harmonis antar sesama masyarakat yang melakukan tradisi Magoak-goakan. Sehinga perlu kajian filosofis, agar tradisi ini tidak punah, dan masih tetap eksis dan berlaku di kalangan masyarat hindu.
Tradisi Magoak-goakan ini menjadi tolak ukur masyarakat Desa Panji untuk penghormatan terhadap raja Panji dengan pasukannya yang bernama Teruna Goak. Tradisi Magoak-goakan dapat dikaitkan dengan ajaran agama Hindu yang dimana dalam Agama Hindu di kenal dengan adanya konsep Tri Hita Karana dimana hubungan yang harmonis sangat di harapkan. Filosofis Tri Hita Karana mengajarkan bahwa kebahagiaan manusia akan dapat dicapai bila manusia mampu menjaga keharmonisan hubungan antar manusia dengan penciptanya (prahyangan), manusia dengan alam (palemahan), dan manusia dengan sesamanya (pawongan) (Windia, 2006: 26).

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah Tradisi “Magoak-goakan” ?
2.      Bagaimanakah kajian Adat, Budaya dan Agama Hindu dalam tradisi “Magoak-goakan” di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng?
3.      Apa makna dari tradisi “Magoak-goakan” ?

3.3    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui sejarah tradisi “Magoak-goakan”
2.      Untuk mengetahui kajian Adat, Budaya dan Agama Hindu dalam tradisi “Magoak-goakan” di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Buleleng.
3.      Untuk mengetahui makna dari tradisi “Magoak-goakan”
















BAB II
PEMBAHASAN

2.1              Sejarah Tradisi “Magoak-goakan
Tradisi Magoak-goakan berasal dari Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng. Permainan ini diperkirakan sudah ada pada masa pemerintahn Ki Gusti Ngurah Panji Sakti di Buleleng. Konon kemunculan permainan tradisional ini dilatarbelakangi persoalan politik berkaitan dengan kekusaan raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti ke Blambangan Jawa Timur. Diceritakan Raja Ki Gusti Ngurah Panji Sakti hendak mau menyerang ke Blambangan, pada saat itulah Ki Tamblang Sampun mendapat perintah dari I Gusti Anglurah Panji untuk memanggil seluruh anggota laskar Taruna Goak untuk berkumpul di halaman Puri Panji. Acara dimulai dengan upacara ritual dan disusul pementasan tarian "Baris Goak" yang ditarikan oleh 20 orang anggota pasukan. Setelah itu dimulailah permainan "Magoak-goakan", yaitu permainan "Madangdang-dangdangan", yaitu permainan saling isi mengisi keinginan sadrasa antara anggota dalam permainan.
Masing-masing orang bergiliran menjadi "Goak" yang boleh meminta apa saja yang diinginkan. Seluruh pemain telah mendapatkan apa yang mereka inginkan, makanan-minuman (boga), pakaian, perabot (upaboga) termasuk perempuan untuk isteri (pariboga). Semua itu diberikan oleh I Gusti Ngurah Panji kepada anggota "Taruna Goak". Pada giliran akhir, I Gusti Ngurah Panji menjadi "Goak". Seluruh pasukan Taruna Goak serempak bertanya: "Hai Goak, apa keinginanmu?" Sang Goak menjawab:
"Guaak, gwaak, gaak, aku ingin menggempur Blambangan.....!!"(... ri uwusiŋ samaŋkana / gumanti sri bupati dadi gowak / tinaňan deniŋ papatih kabeh / gowak apa karĕpmu / sumawur tikaŋ gowak / gowak guwak / wak / arĕp anjayêŋ Braŋbaŋan / asurak tikaŋ wwaŋ kabeh / apan sĕsĕk syuh pĕnuh punaŋ bala ananonton /..)
Terjemahan:
Seketika riuh bersorak gemuruh dengan penuh semangat untuk memenuhi keinginan Sang Goak, tidak lain I Gusti Anglurah Panji sebagai goak. Para hadirin dan penonton semuanya bersorak riuh memberi dukungan semangat untuk mengempur Blambangan.
Penyerangan "Taruna Goak" ke Blambangan. Laskar Den Bukit "Taruna Goak" harus telah dipersiapkan dengan segala kemampuan karena I Gusti Anglurah Panji menyadari bahwa prajurit Blambangan dengan pasukan berpengalaman yang terkenal kebal senjata dengan ilmu tenung. Oleh karena itu persiapan matang harus dilakukan. Selain keris, tombak dan panah juga dikembangkan senjata sumpit dengan panah beracun. Lagi pula letak ibu kota Blambangan berpindah beberapa kali membuat strategi penyerangan sulit.
Laskar dibagi empat bagian, termasuk armada kapal laut, pasukan panah, sumpit, tombak termasuk pasukan senjata api (bedil) dan logistik. Setelah ditentukan hari yang baik oleh Sang Bhagawanta mulailah pasukan bertolak ke Blambangan dipimpin oleh I Gusti Ngurah Panji berbekal senjata keris pusaka Ki Semang dengan tulup Ki Pangkajatattwa. Selain itu ada dua senjata bertuah asli buatan Banjar, Ki Baru Ketug dibawa oleh I Gusti Tamlang dan Ki Baru Sakoti dibawa oleh I Gusti Batan. Armada kapal berlayar melalui Segara Rupek menuju pantai Tirta Arum.
Penduduk sangat terkejut munculnya pasukan Taruna Goak yang menyerang tiba-tiba. Banyak penduduk yang lari tanpa arah, ada yang ke utara dan ke selatan, ada yang lari menuju kota. Sampai di Banger mendapat perlawanan sengit dari pasukan Macan Putih Blambangan. Pertempuran berkecamuk secara membabi buta. Mayat bergelimpangan dan darah membasahi medan pertempuran.
Pasukan Bali sangat ahli mempergunakan senjata sumpit sehingga banyak jatuh korban dari pihak laskar Macan Putih tak akan mampu menandingi pasukan Bali, dengan demikian Kerajaan Blambangan dapat dikuasai oleh I Gusti Ngurah Panji. Ribuan prajurit Blambangan menyerahkan diri kepada Patih I Gusti Tamblang dan bersumpah setia kepada I Gusti Anglurah Panji Raja Den Bukit. Setelah beberapa lama berada di Blambangan, beliau mengangkat putranya tertua I Gusti Ngurah Wayan sebagai Raja Blambangan dengan pasukan prajurit 600 orang ( Sejarah Buleleng: 14-16).

2.1.1 Persiapan dan Aturan Permainan
Masyarakat berkumpul di lapangan Desa Panji, sebelum pelaksanaan masyarakat mengalirkan air untuk menggenangi lapangan setempat. Yang tujuannya adalah untuk para pemain goak yang jatuh pada saat melakukan permainan ini tidak terluka. Karena dalam permainan Magoak-goakan tidak ada yang mengatur, maka muda-mudi bermain dengan cara berlari-lari sambil menarik teman-temannya yang ada dipinggir lapangan untuk ikut bersama melakukan permainan Magoak-goakan.
Adapun aturan permainan yang ada dalam tradisi Magoak-goakan antara lain, pemain di depan harus bisa menangkap ekor yang ada di belakang, jika ekornya sudah tertangkap maka selesailah permainan Magoak-goakan, dan pemeran goak tadi masuk kedalam barisan, dan digantikan oleh pemain goak yang lainnya. Untuk memerankan menjadi goak tidaklah mudah untuk berlari, melainkan faktor lapangan yang becek mengakibatkan peserta cepat jungkir balik, karena ikat pinggangnya juga dipegang dari belakang.
2.1.2 Tempat dan Waktu Pelaksanaan Tradisi Magoak-goakan
Permainan ini dilakukan di lapangan Desa Panji, dari masyarakat sangat antusias turun ke lapangan setempat untuk ikut ataupun menyaksikan pelaksanaan tradisi Magoak-goakan tersebut, karena dalam permainan ini tak ada yang mengkordinir, ataupun memaksa untuk ikut melaksanakan tradisi Magoak-goakan tersebut.
Adapun tradisi Magoak-goakan ini dilakukan pada saat Ngembak Geni, yang dimulai pada sore hari dari jam 15.00- selesai. Tujuan dalam pelaksanaan ini adalah untuk menjalin rasa manyama braya diantara masyarakat yang ikut melaksanakannya tradisi Magoak-goakan, dan sebagai ajang pelestarian budaya yang diwariskan para leluhur.

2.1.3 Permainan Tradisi Magoak-goakan
Dalam tradisi Magoak-goakan masyarakat Panji sangat antusias untuk mengikutinya. Baik yang ikut serta dalam permainan maupun yang menonton. Komposisi dalam permainan tardisi ini yaitu berleret ke belakang, berselang-seling antara pemain perempuan dengan yang laki-laki. Dalam permainan ini, pemain goak berlari sekuat tenaga untuk menangkap ekor dari permainan itu sendiri.

2.2              Kajian Adat, Budaya dan Agama Hindu dalam tradisi Magoak-goakan di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng.

2.2.1 Kajian Adat
            Dilihat dari segi adat bahwa tradisi “Magoak-goakan”  di Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng ini memang sangat kental sekali. Tradisi “Magoak-goakan” ini diatur dalam awig-awig Desa setempat, dan merupakan trasisi yang selalu dirayakan setiap “Ngembak Gni”. Masyarakat Desa Panji sangat antusias dalam melestarikan tradisi ini, selain sebagai upaya pelestarian budaya juga sebagai penghormatan atas keberhasilan pasukan “teruna goak” dalam menggempur Blambangan.

2.2.2 Kajian Budaya
          Dilihat dari segi sosial budaya tradisi Magoak-goakan ini sebagai alat untuk menjalin rasa persatuan, persaudaraan, rasa tanggungjawab bersama sebagai faktor utama dalam pembangunan, dan tercapinya masyarakat yang adil. Dengan adanya kesatuan, persaudaraan, dan persamaan hak dan kewajiban maka timbullah rasa tanggungjawab dan kesetiaan masyarakat Desa demi tercapai kesejahteraan bersama. Berdasarkan kenyataan mengenai jumlah masyarakat yang ikut dalam tradisi Magoak-goakan, dapat diukur seberapa besar kekuatan tenaga kerja, dan sifat gotong royang sebagai faktor utama didalam pembangunan, demi tercapainya masyarakat adil dan sejahtera.
Manusia adalah homo sosius yang tidak bisa lepas dari orang lain, manusia tidak dapat hidup sendirian, dan selalu hidup bersama-sama dengan manusia lain. Manusia hanya dapat hidup dengan baik apabila ia hidup bersama-sama manusia lain dalam masyarakat. Dalam kehidupan ini tak bisa dibayangkan apabila manusia hidup sendiri, tanpa berhubungan dan bergaul dengan sesama manusia lainya. Hanya dalam hidup bersama manusia dapat berkembang dengan wajar, hal ini menunjukkan bahwa sejak lahir sampai meninggal manusia memerlukan pertolongan orang lain dalam kesempurnaan hidupnya.
Dilihat dari fungsi solidaritas, dimana para pemain dituntut untuk bekerja keras, saling bantu, dan membagi suka maupun duka dalam permainan Magoak-goakan ini. Permainan Magoak-goakan ini menuntut agar pemain harus bekerja keras dalam menyerang dan menakklukan lawan. Hal ini tampak pada gerakan-gerakan lincah yang diperagakan oleh para pemain, yang kadang kala berlari, menari, jongkok, merayap berputar-putar, berbalik, atau melompat ke sana ke mari.

2.2.3 Kajian Agama
            Tradisi Magoak-goakan yang dilaksanakan dengan penuh rasa kebersamaan oleh masyarakat Panji, karena tradisi ini sudah mendarah daging dapat dianggap sebagai segala aspek yang mempengaruhi segala kehidupan masyarakat Panji sendiri, yang terdapat dalam kehidupan beragama maupun dalam kehidupan sosial. Jadi berdasarkan dari sejarah dan asal-usul timbulnya tradisi Magoak-goakan yang berada di lingkungan masyarakat Panji.
Untuk mencapai kedamaian secara mantap, maka ketiga unsur sebagai pencipta dalam kesejahteraan, yaitu disebut dengan ajaran Tri Hita Karana antara lain: Parahyangan, Palemahan, dan Pawongan. Ketiga unsur di atas bekerja dengan rapi untuk bekerja saling jalin menjalin, sehingga Desa betul-betul merupakan badan hukum yang komplit, karena merupakan suatu kehidupan (Cudamani, 1989: 75).
Dalam pelaksanaanya melalui mendekatkan diri dengan Dewa-Dewi, dan para leluhur, yang diawali dengan persembahyangan di pura Pajenengan Panji. Dalam persembahyangannya tidak ada yang memimpin diharapkan dapat membantu manusia untuk menjalin rasa persaudaraan dan kesejahteraan.
Keharmonisan dalam kamus Besar Bahasa Indonesia Tim-Penyusun (1991:342), mengandung arti suatu keadaan yang selaras atau serasi dimana keserasian ini diakibatkan beberapa faktor yang ikut menjadi bagian yang saling menguntungka, sedangkan keselarasan mengandung makna kesesuia, pusat pelaku dalam harmonisasi yang hidup di Bumi berusaha untuk menyelaraskan, menyesuaikan dan mencocokkan dirinya dengan Tuhan, sesama manusia, maupun dengan lingkungan yang ada disekitarnya.
Dalam kitab Manawa Dharmasastra III, 76 dikatakan:
agnau prastahutih samsyag
adityam upatistate,
adityajjayate vrstir
vrsterannamtatah prajah.
Terjemahan:
Pesembahan yang dimasukkan api akan mencapai matahari, Dari matahari akan turunlah hujan,
Dari hujan timbullah makanan dari mana maklhuk hidup mendapatkan hidupnya
Apa yang kita terima dari alam sudah sepantasnyalah kita kembalikan kea lam, proses itu akan berulang kembali, karena berjalan dengan adil. Tradisi Magoak-goakan bertujuan untuk menciptakan keseimbangan, keharmonisan, dan keselarasan dalam diri, maupun untuk mendekatkan diri dengan Tuhan Yang Maha Esa. Adapun kegiatan yang bersifat ritual, baik yang berkaitan dengan agama maupun tradisi. Magoak-goakan adalah sebagai warisan yang diyakini memiliki arti dan makna bagi masyarakat Panji, dan dapat rasa kebersamaan dan keharmonisan.

2.3 Makna dalam tradisi “magoak-goakan”
Tradisi Magoak-goakan ini dilaksanakan dengan penuh keakraban tanpa ada yang membedakan status ataupun golongan, dianggap sebagai suatu hal yang sudah mempengaruhi kehidupan pada masyarakat Panji, dapat digolongkan menjadi tiga makna, yang meliputi:

A. Makna Etika
Dalam kehidupan manusia dituntut untuk berbuat atau bertingkah laku yang baik, hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menciptakan suatu keselarasan dan keharmonisan dalam kehidupan sehari-hari. Etika berkaitan erat dengan kata moral yang merupakan istilah dari bahasa latin, yaitu “mos” dan dalam bentuk jamaknya “mores” yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang atau sekelompok orang (Ruslan, 2001: 29).
Frans Magnis-Susena dalam bukunya yang berjudul Etika Jawa menyatakan bahwa, “Etika” merupakan keseluruhan norma-norma dan penilaian yang dipergunakan oleh masyarakat untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupan ( Susena, 1993: 6).
Ajaran Agama Hindu mengajarkan agar manusia dapat berkata yang benar yang disebut dengan wacika parisuda. Bahwa dengan berkata-kata yang benar kita akan mendapatkan kebahagiaan dan keselamatan. Hal ini sesuai dengan kitab suci Sarasamuscaya sloka 75 disebutkan sebagai berikut:
Nyang tanpa prawrityaning wak, pat awehnya, pratekyannya, ujar ahala, ujar uprgas, ujar picuna, ujar nithya, naan tang pat sanggahaning wak, tan ujarakena, tan angina-ngena,kojarnya.
Terjmahannya:
Inilah yang patut timbul dari kata-kata, empat banyaknya, yaitu perkataan jahat, perkataan kasar, menghardik, perkataan memfitnah, perkataan bohong, itulah keempatnya harus disingkirkan dari perkataan, jangan diucapkan, jangan dipikir-pikirkan akan diucapkan (Kajeng, dkk, 1997: 65-66)
Sesuai dengan pengertian di atas dapat disimpulkan, bahwa sungguh pentingnya perkataan yang suci, sehingga dapat menyenangkan atau membahagiakan sesama manusia. Begitu pula dengan perbuatan yang baik berdasarkan dharma, agar mencapai kebahagiaan dan keharmonisan.
Dilihat dari segi etika maka tradisi Magoak-goakan, berusaha untuk saling hormat menghormati, tanpa ada yang membedakan status dalam pelaksanaanya, sabriyuk sapanggul yang tujuannya untuk saling bergotong royong, untuk terjalin hubungan yang selaras antara yang ikut melaksanakannya.

B. Makna Estetika
Berdasarkan Kamus Umum Bahasa Indonesia kata seni adalah indah, halus, dan luhur (Poerwardaminta, 1983: 157). Sedangkan budaya berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti pikiran akal budi. Jadi seni budaya adalah segala hasil daya cipta karsa manusia yang diciptakan dengan pikiran yang halus dan indah.
Seni budaya adalah segala hasil daya cipta manusia yang diciptakan dengan halus, indah, dan luhur yang dibuat oleh tangan manusia itu sendiri. Setiap manusia mempunyai perasaan seni terhadap sesuatu yang dipandangnya. Alam dengan keanekaragamannya mempunyai nilai-nilai seni dan semua itu tergantung dari cara pandang manusia itu sendiri. Kalau dilihat dari alat yang dipergunakan dalam permainan ini seperti, topeng dan gambelan baleganjur yang mengiringi prosesi dari Magoak-goakan maka sangatlah mengandung nilai-nilai seni budaya didalamnya.

C. Makna Pendidikan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Tim-Penyusun (1991: 232) disebutkan bahwa: pendidikan berasal dari kata “ didik” berarti memelihara, memberi latihan (ajaran, tuntunan, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Selanjutnya kata “didik” mendapatkan awalan pe- dan an, sehingga menjadi kata bentukan pendidikan yang berarti proses perubahan sikap dan tata tingkah laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan.
Dalam sistem ajaran Agama Hindhu, Sradha mempunyai fungsi dan kedudukan sebagai rangka Dharma, kerangka bentuk isi dari pada Agama Hindu. Sradha sebagai alat atau sarana dalam mengantar manusia menuju kepada Tuhan. Pengertian ini dapat kita lihat dalam kutipan sebagai berikut:
Sradha Satyam Ajayoti,
Sradham Satye Prajapatih
Terjemahan
Dewa sradha akan mencapai Tuhan
Tuhan menetapkan dengan Sradha menuju kepada satya (Yajur Weda XIX, 30 )
Dengan berpedoman pada Sradha sebagai dasar pengertian keagamaan, Agama Hindu dapat dijelaskan. Sradha adalah kerangka dasar yang membentuk berbagai ajaran didalam agama Hindu yang perlu diyakini dan dihayati dengan penuh rasa pengertian.
Dalam makna pendidikan, maka melatih pemain untuk bekerja keras, mengedepankan sportivitas, keikhlasan yang tumbuh dari budi, dan moral yang luhur untuk menciptakan kedamaian bagi masyarakat Desa Panji.


























BAB III
PENUTUP
3.1         Kesimpulan
Berdasarkan pada pembahasan di atas dapat dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut :
A. Bentuk Tradisi Magoak-goakan
Bentuk tradisi Magoak-goakan yaitu dilakukan oleh masyarakat Desa Panji, dengan berkumpul di lapangan Desa setempat. Dalam permain Magoak-goakan ini dibentuk sebuah barisan kebelakang, dan saling bepegangan antara pemain yang ada didepannya. Adapun aturan permainan Magoak-goakan yakni, peserta yang paling depan bertugas untuk menangkap ekor yang ada paling belakang.

B. Fungsi Tradisi Magoak-goakan
            Adapun fungsi dari tradisi Magoak-goakan yakni, untuk memperdalam rasa kekerabatan diantara masyarakat yang ikut melakukannya. Tradisi Magoak- goakan mempunyai tujuan untuk memupuk rasa persatuan dan kesatuan. Pelaksanaan tradisi Magoak-goakan melibatkan banyak orang yang tanpa membedakan status untuk ikut berbaris untuk memainkan Magoak-goakan.

C. Makna Tradisi Magoak-goakan
          Makna dari tradisi Magoak-goakan yakni, dengan kreativitas dari seorang pemain sulit untuk diterka arah gerakannya. Serta dalam permainan Magoak-goakan diiringi dengan alunan bleganjur untuk memotivasi para pemain agar tetap bersemangat untuk mengikuti permainan ini. Bertitik tolak dari tradisi Magoak-goakan mempunyai pandangan dan kepercayaan masyarakat untuk melaksanakannya akan menumbuhkan kebersamaan dan kedamain bagi yang ikut melakoni tradisi Magoak-goakan.

3.2         Saran
A. Membangkitkan Kesadaran Indivual
Dalam upaya menunjukkan sebuah permainan antara goak pada waktu menangkap anak ayam harus tetap menjalin rasa kebersamaan. Karena tradisi Magoak-goakan tidak ada konswensi kalah menang, dalam permainan Magoak-goakan ini semua bisa memerankannya.

B. Usaha Pelestarian Budaya
Tradisi Magoak-goakan sebagai modal budaya perlu kiranya diberikan ruang dan perhatian khusus. Dalam bidang penelitian tradisi Magoak-goakan hasilnya diharapkan dapat disebar luaskan bagi masyarakat. Dalam tradisi Magoak-goakan ini sebagai warisan dari zaman terdahulu, alangkah baiknya apabila permainan tersebut kembali dibina, ditingkatkan dan dikembangkan sehingga menjadi pertunjukan nasional.

C. Usaha Peningkatan Kualitas Pemahaman Dalam Tradisi Magoak-goakan
Para generasi muda diharapkan dapat memahami makna yang terkandung dalam tradisi Magoak-goakan, karena dieraglobalisasi ini banyak generasi muda yang enggan untuk mengenal tradisi , yang mereka anggap sudah masa lalu. Dari mengenal tradisi Magoak-goakan inilah agar dapat mempertebal rasa persatuan untuk memperkokoh rasa kebersamaan.















Daftar Pustaka
Cudamani, 1989. Pengantar Agama Hindu Untuk Perguruan Tinggi. Jakarta: Dharma Sastra.
Kajeng, I Nyoman dkk. 1997. Sarasamuscaya.
Pudja, G. Dan Tjokorda Rai Sudharta. 2004. Manawa Dharma Sastra (Manu Dharmasastra). Surabaya: Paramita.
Pemerintah Kabupaten Buleleng. 2010. Sejarah Buleleng. Singaraja: UPTD Gedong Kirtya.
Titib, I Made. 2003. Weda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Paramita: Surabaya
Wiana, Ketut, 2002. Makna Upacara Dalam Agama Hindu. Surabaya; Paramita.
Windia, Nyoman, 2006. Konsep Tri Hita Karana Dalam Tradisi Bali. Surabaya; Paramita.
Sumber Internet :

http://www.google.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar